Tak Sengaja Mencintaimu
Wina membawanya ke sebuah apotek yang tidak jauh dari mall, membeli obat dan mengobati tangan Vanka dengan sigap, seolah sedang menangani pasien.
“Ini perih, Van. Tahan ya.”
Vanka mengangguk. Saat kapas beralkohol menyentuh luka bekas gigitan itu, tubuhnya menegang. Rasa perihnya menusuk, membuat matanya berair, tapi ia tidak bersuara. Ia hanya memalingkan wajah, menatap kosong ke arah jalanan penuh kendaraan.
“Kalau sampai infeksi bisa panjang urusannya,” gumam Wina sambil membersihkan darah yang mulai mengering.