Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Satu Malam dengan Raja Naga

Satu Malam dengan Raja Naga

Dan di saat tangannya menggenggam benda hangat itu, ia menghela napas. Pelan. Dalam. Dan… mulai menulis. Semua orang tetap pada aktivitas masing-masing. Tak ada yang melihat ke arahnya. Tapi semuanya tahu: satu per satu baris itu mulai mengisi papan. Beberapa jam kemudian, ia bangkit. Membawa papan itu ke tumpukan batu, dan tanpa sepatah kata pun, ia menaruhnya di tengah.
101.9K viewsCompletedAdded to Library 50 Times as writing the wall
Read
+Library
The Wall In My Heart

The Wall In My Heart

Saat itulah mereka akan bercerita banyak hal. Mak Edah mondar-mandir membersihkan ruang tengah yang dipenuhi daun-daun nangka yang jatuh tertiup angin, masuk lewat jendela kayu yang terbuka. Mak Edah menutup sedikit jendela itu, meski nantinya angin kencang akan membuat jendela terbuka lagi. Dimintanya Pak Rais untuk mengikat jendela kayu itu agar tidak terbuka terlalu lebar. Pak Rais melepas jarum jahitnya menuju jendela, mengambil kayu kecil dan mengikatkannya pada jendela kemudian untuk memberi sedikit celah terbuka disampirkan sebuah batang kayu yang cukup besar sekitar 15 cm. Jendela berhenti bergerak-gerak oleh angin. Tertahan oleh kayu dan ikatan.
102.8K viewsOngoingAdded to Library 55 Times as writing the wall
Read
+Library
Dead&Queen

Dead&Queen

"Napasin lagi ruang ini, tapi tanpa harus menyempitkan diri." Di rumah malam itu, Alma membuka jendela kamar. Udara lembab naik pelan dari jalanan. Jauh di seberang gedung, lampu kantor Paper&Pixel masih menyala di beberapa lantai. Tempat yang sudah menghapus banyak suara. Tapi tidak semuanya. Ia menulis lagi malam itu. Bukan untuk laporan. Tapi untuk dirinya. Tidak semua perjuangan dibarengi dengan keramaian.
1.4K viewsCompletedAdded to Library 48 Times as writing the wall
Read
+Library
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

Tapi bahkan di dalam kamar, ia bisa merasakan udara berubah—dingin, seperti ada yang memperhatikannya dari balik dinding. Sementara itu, A naik ke lantai atas. Setiap langkah kayunya mengeluh pelan. Di ujung koridor, ada jendela terbuka sedikit. Tirai berkibar lembut, dan di dinding, seseorang menulis dengan darah tipis: “Aku sudah di sini sejak kemarin.” A mundur selangkah. Ia menatap tulisan itu lama sebelum mengambil foto cepat dengan ponsel. Tapi baru saja ia menyimpannya, suara retakan terdengar dari arah bawah—seperti kaca pecah.
88.6K viewsOngoingAdded to Library 248 Times as writing the wall
Read
+Library
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Kitab yang Menulis Sendiri Langkah mereka menembus pintu itu bukan seperti memasuki ruangan, melainkan seperti menyusuri gagasan. Dinding di sekeliling mereka bukanlah batu atau kayu, melainkan narasi yang mengalir dalam bentuk cahaya huruf. Setiap langkah, Lena, Kai, Kapten Arya, dan Ustadz Faris seperti ditulis ulang oleh ruang itu, seakan mereka sedang berjalan di atas halaman yang terus berubah.
2.6K viewsCompletedAdded to Library 81 Times as writing the wall
Read
+Library
Pengantin di Gerbang Hitam

Pengantin di Gerbang Hitam

bukan kepanikan murni, melainkan ketegangan orang yang sedang menahan ingatan agar tidak runtuh sekaligus. Tangannya bergerak ke dinding. “Apa yang dia lakukan?” Arden berbisik, rahangnya mengeras. “Menulis,” jawab Aruna pelan. “Dia… sedang menulis.” Ujung jari Layla menyentuh dinding putih. Bukan dengan spidol. Bukan dengan kapur. Dengan cat hitam... entah dari mana asalnya... lengket, kental, baunya tajam dan asing di kamar yang biasanya steril.
101.1K viewsOngoingAdded to Library 23 Times as writing the wall
Read
+Library
Penyamaran CEO Tanaka

Penyamaran CEO Tanaka

“Takut kalau kedekatan itu akan menghancurkan sesuatu yang sedang ia jaga.” Maya terdiam lama. Kalimat itu menempel di kepalanya hingga lama setelah mereka meninggalkan kafe. Sementara itu, di kamar kos kecilnya, Ardi duduk menatap lampu meja yang temaram. Di depannya, buku catatan kulit yang sudah penuh tulisan. Ia membuka halaman baru dan menulis perlahan: “Aku membangun tembok.
1.1K viewsOngoingAdded to Library 22 Times as writing the wall
Read
+Library
THE DEAD WALK

THE DEAD WALK

Sementara itu, Elara memperhatikan dinding sekitar—terpampang mural usang, dengan tulisan: **“Kita adalah tuhan atas dunia yang baru.” "Tulisan itu... seperti ditulis dengan darah," gumamnya pelan. Pintu berderit perlahan terbuka. Udara dingin menyergap, bau logam dan pembusukan menyatu. Mereka melangkah masuk, hati-hati. Di dalam, ruangan besar terbentang. Komputer rusak. Tabung-tabung kaca yang retak. Beberapa masih berisi cairan hijau... dan sesuatu yang bergerak pelan di dalamnya.
101.4K viewsOngoingAdded to Library 55 Times as writing the wall
Read
+Library
Antara Peran dan Perasaan

Antara Peran dan Perasaan

Raydan menimpali, “Karena tempat ini tidak menampung keramaian. Ia menampung keberadaan.” --- Alana mulai menulis jurnal dinding. Setiap minggu, satu kalimat baru ditempel di ruang tamu. Minggu pertama: > “Kamu tidak harus bangkit hari ini. Tapi boleh duduk sebentar tanpa merasa gagal.” Minggu kedua: > “Kalau kamu masih di sini, berarti kamu masih hidup. Itu cukup.”
101.9K viewsCompletedAdded to Library 64 Times as writing the wall
Read
+Library
Suamiku Bukan yang Kukira

Suamiku Bukan yang Kukira

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ia sudah hilang di balik pintu yang belum sempat menutup sepenuhnya. Aku berjalan tertatih, mencari pintu belakang. Di dinding, sebuah tulisan disemprot dengan cat hitam: “Magnolia tak tumbuh di tanah yang jujur.”
800 viewsOngoingAdded to Library 24 Times as writing the wall
Read
+Library
PREV
12
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status