รักไม่ได้…หยุดไม่ได้(แอบรักเมียเก่าพี่)

รักไม่ได้…หยุดไม่ได้(แอบรักเมียเก่าพี่)

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-11
Bahasa: Thai
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
72Bab
573Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

ถ้าคุณ ‘ยั่ว’ ผมก่อน…ก็อย่าหวังว่าจะรอดกลับไป “ผมจะทำให้คุณเปลี่ยนครางชื่อพี่..มาเป็นชื่อผม!!!” เมียเก่าพี่ก็เหอะถ้าเธอยังครางชื่อผมได้ ผมก็จะเอาให้สุด ถ้าผมลบทุกสัมผัสของพี่ออกไปจากร่างคุณ ได้คุณจะยอมเป็นของผมไหม?

Lihat lebih banyak

Bab 1

บทนำ

“Abin, jangan ngerokok terus!”

Seorang gadis berambut cokelat sepinggang merebut korek api yang hampir menyulut sebatang rokok yang terselip di bibir seorang laki-laki.

Gadis itu berkacak pinggang seraya memelototkan mata. Bibir tipisnya tertekuk hingga pipi tirusnya itu menggembung. “Iya, Jisya sayang ...." Laki-laki bernama Abin itu terkekeh seraya menekan pipi gadis itu dengan kedua telapak tangannya.

“Kan udah aku bilang, kalau rokok itu nggak baik buat kesehatan. Kamu nggak kasihan sama paru-paru? Nggak kasihan sama aku juga kalau kena asapnya? Perokok aktif sama perokok pasif itu lebih berisiko perokok pasif, Abin.... Kamu mau aku mati muda?”

Sementara Jisya berceloteh panjang lebar, Abin hanya menopang pipi menatapnya dengan tersenyum. Ingin rasanya menggigit pipi chubby kekasihnya itu saking menggemaskannya .

Sadar ditatap Abin dengan tatapan tak biasa, Jisya langsung mengatupkan mulutnya. “Ih, Abin! Kok ngelihatian nya gitu sih?”

Senyuman Abin perlahan berubah menjadi kekehan ringan yang menawan. “Cie, salting ya?” goda laki-laki itu dengan mencolek dagu Jisya. Apa daya Jisya yang imannya lemah, tak kuasa menahan semburat merah muda di pipiya. Dia tersipu dengan perlakuan kecil dari Abin.

“Enggak. Siapa juga yang salting?” Bagaimana pun Jisya tetap mempertahankan gengsinya di hadapan Abin. Tidak mau membiarkan Abin semakin menggodanya kalau tahu dia tengah salah tingkah.

“Oh ... yakin, nggak salting?”

“Abin, apaan sih? Kamu jangan ngalihin pembicaraan! Kita lagi bahas rokok, oke?”

Abin berdeham tiga kali seperti orang yang hendak mengawali sebuah pidato. “Gini ya, Jisya sayangku ... rokok itu udah jadi kebutuhan buat aku. Kalau aku nggak ngerokok, rasanya tuh kayak ada yang kurang. Kayak kamu yang hobinya shopping. Emangnya kamu bisa tahan buat nggak shopping?” ucap Abin seraya menyisipkan helai demi helai rambut kebelakang daun telinga Jisya.

Jisya membalas perlakuan Abin dengan merapikan rambut Abin yang berantakan. Mengusap peluh di sekitar pelipisnya dan berakhir menagkup kedua pipi laki-laki itu. “Itu namanya kamu udah kecanduan, Abin sayang …. Kalau kamu nggak berhenti dari sekarang, nanti lebih susah lho ngilanginnya. Lagian, aku kan nggak suka shopping. Nggak perlu kamu cari pembanding yang sia-sia.”

Abin mengorek telinga kanannya dengan telunjuk. Seolah mendegarkan ceramah Jisya lama-lama bisa membuat gendang telinganya pecah. Sudah satu bulan berpacaran, selalu itu itu saja yang mereka bahas. Seperti tidak ada pembahasan lain saja. Dan selama itu juga Abin tetap tidak berubah. Ucapan Jisya hanya seperti angin lalu baginya.

Yang lebih ajaib lagi, meskipun jenuh dengan ocehan Jisya, Abin tetap dengan sabar mendengarkannya. Entah dia akan menurutinya atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting ketika Jisya bicara dia merasa didengarkan.

“Ya udah, gini aja, kalau kamu kasih aku kiss sekali aja, aku bakal berhenti ngerokok. Gimana?” Abin mengetuk-ngetuk bibirnya menggoda Jisya. Jisya pun seolah memberikan reaksi untuk tawaran Abin. Dia memutar-mutarkan pandangannya seperti mempertimbangkan sesuatu.

“Hm ….” Jisya menggantungkan kalimatnya membuat Abin semakin tidak sabar.

“Gimana? Mau nggak?” tawar Abin lagi.

Dan Jisya hanya menjawabnya dengan satu kata. “Enggak.”

Penolakan Jisya itu membuat Abin menghela napas dengan kecewa. “Ya udah, kalau gitu aku tetep ngerokok,” jawab Abin berpura-pura tak acuh dan kembali mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya.

“Abin!”

Melihat Jisya membentaknya dengan pelototan tajam, Abin benar-benar tak bisa berkutik. Dia memasukkan kembali batang rokok itu ke dalam kotak dan meletakkannya di atas meja. “Bercanda, Sayang …,” rayunya kembali.

Jisya kembali menekuk bibirnya dengan kesal. Abin itu masuk dalam kategori bad boy. Suka merokok, mabuk-mabukan, bahkan bolos kuliah. Berpacaran dengannya membuat Jisya mengelus dada setiap hari. Dia bertekad ingin mengubah laki-laki itu menjadi lebih baik.

Di saat Abin berusaha merayu Jisya, tiba-tiba ponsel yang dia letakkan di atas meja bergetar dan memunculkan panggilan dari kontak bernama Leo. Jisya yang menyandarkan bahunya dengan tangan terlipat di depan dada melirik ponsel Abin dan tanpa sengaja membaca nama kontak yang meneleponnya. Bukannya menerima pangilan itu, Abin justru menggeser tombol merah.

“Kok direject?” Jisya heran saja dengan Abin yang seenaknya menolak panggilan orang lain. “Dianggkat dong, Abin! Siapa tahu penting.”

Bukannya menjawab pertanyaan Jisya, Abin justru tersenyum jail dan mencolek dagu gadis itu. “Udah nggak ngambek lagi nih ceritanya?” Jisya menangkis tangan Abin. “Pokoknya kalau kamu masih ngerokok, kita putus aja. Aku nggak mau deket-deket sama perokok.”

Abin tahu Jisya tidak serius mengatakannya. Abin juga tahu Jisya itu tidak bisa jauh-jauh darinya. Lebih dari dua puluh tahun dia hidup, dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang laki-laki. Ayahnya sudah meninggal semenjak dia masih di dalam kandungan. Dan kehadiran Abin membuatnya merasa selalu nyaman dan dilindungi.

Jisya memang bisa mengendalikan perilaku Abin. Bahkan dia membuat Abin kesal dan gemas dalam satu waktu. Sebaliknya, Abin juga bisa mengendalikan hati Jisya. Dia bisa membuat Jisya was-was dan kasmaran dalam waktu bersamaan. Mana bisa Jisya memutuskan Abin kalau seperti itu.

Lagi-Lagi ponsel Abin bergetar mendapat panggilan dari orang yang sama untuk kedua kalinya. “Diangkat, Abin!” Abin tetap tidak peduli dengan perintah Jisya. Dia kembali menggeser tombol merah, lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

Setelah itu dia menarik lengan Jisya agar gadis berdiri dari tempatnya. Jisya yang masih dalam mode merajuk dengan malas mebiarkan tubuhnya mengikuti pergerakan Abin. “Udah sore. Yuk, aku antar pulang. Nanti dimarahi Mama lho,” ucap Abin seraya merapikan rambut pajang Jisya yang berantakan.

Jisya menatap Abin dengan menahan senyumannya. Dia benar-benar tidak bisa lama-lama marah pada laki-laki berwajah cuek itu. Bagaimana bisa marah jika dia selalu memperlakukan Jisya bak putri raja.

“Biasa aja ngelihatinnya. Aku tahu kalau aku ganteng.” Dengan mudahnya Abin mencubit hidung mancung Jisya. Jisya pun langsung memutuskan pandangannya dari Abin dan melihat ke arah lain. “Leo itu siapa sih? Kok aku nggak pernah tahu kamu punya teman namanya Leo?” tanya Jisya penasaran.

Abin tetap melanjutkan acaranya merapikan seragam Jisya dan berganti mengusap rok belakang Jisya yang berdebu. “Temen aku kan banyak. Emang kamu hafal semua temen aku?”

“Ya, enggak sih. Tapi mau dong dikenalin sama temen kamu yang namanya Leo itu. Aku suka banget kalau ada cowok namanya Leo. Pasti keren banget orangnya.”

Mendengar permintaan dari Jisya, Abin seketika menghentikan pergerakannya dan menjauhkan tangannya dari rok Jisya. “Jangan! Nanti kamu malah suka lagi sama dia.” Jisya memang selalu suka melihat wajah cemburu Abin. Ketika laki-laki itu cemburu, Jisya merasa menjadi gadis paling cantik sedunia.

Setelah memastikan seragam Jisya sudah rapi kembali, Abin mengambil jaket hitam yang dia gantung di stand hanger. Satu persatu lengan jaketnya dia pakaikan pada Jisya dengan penuh perhatian. Sudah biasa bagi Jisya mendapat perlakuan manis Abin.

Mungkin mereka baru satu bulan berpacaran dan bahkan belum saling mengenal semakin dalam, tapi Jisya semakin yakin Abin adalah sosok yang pantas untuknya. Tumbuh dengan sisi lain yang manja mebuatnya merasa cocok bersama Abin yang perhatian dengan hal-hal kecil tentangnya.

Abin menyelipkan kelima jarinya di sela-sela jemari Jisya. Menuntunnya keluar dari ruangan itu untuk segera mengantarkannya pulang. Sejak pulang sekolah Abin langsung mengajak Jiysa ke rumahnya untuk menyaksikan bandnya berlatih. Di rumahnya memang ada studio musik yang sudah disiapkan oleh ayahnya yang juga merupakan pecinta musik.

Abin dan dua temannya memberi nama bandnya dengan nama AFK. Bukan berarti kalah, melainkan diambil dari insial ketiga personilnya. Abin vokalis, Fras gitaris dan Kaffa yang menjadi drummer. Meskipun pada umumnya vokalis yang mendapat perhatian lebih dari fansnya, tapi di AFK mereka sama rata. Tidak ada yang lebih populer, tidak ada yang paling tenggelam.

Setelah memasang helmnya dengan benar, Jisya naik ke atas motor Harley Davidson milik Abin. Dari kaca spionnya, Abin bisa melihat Jisya sudah duduk manis dengan melingkarkan tangan di pinggangnya. Dia pun melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Menyusuri lalu lintas ibu kota yang semakin ramai karena bertepatan dengan karyawan-karyawan yang juga pulang bekerja.

Jisya menyandarkan kepalanya di punggung Abin dengan mata terpejam. Dia selau takut setiap diajak Abin kebut-kebutan. Tentu saja Jisya masih sayang nyawa. Dia masih ingin pulang dengan keadaan selamat dan melihat senyuman mamanya. Sedangkan Abin yang menjadi tersangka ketakutan Jisya, hanya mengulas senyum tak berdosa sambil melirik Jisya dari kaca spion.

Ketika Abin menurunkannya di depan rumah, Jisya tak berhenti menggerutu pada Abin. “Udah dibilangin, kalau naik motor jangan ngebut susah banget sih, Abin? Aku nggak mau ya mati muda!”

Seperti biasa, ketika Jisya mengomel panjang lebar, Abin hanya memandanginya saja dengan senyuman yang menawan membiarkan gadisnya itu menyelesaikn ucapannya sediri. “Ih, Abin! Kamu denger nggak sih?” kesal Jisya.

“Iya, Jisya… aku denger kok. Ya udah, masuk, gih! Besok aku jemput. Bye, Sayang….” Abin segera melepas helm yang dipakai Jisya. Cara itu berhasil membuat Jisya berhenti mengomel dan menarik napas panjang.

“Ya udah, kamu buruan pulang. Jangan lupa, besok antar aku pemotretan.”

Baru membuka gerbangnya, Jisya kembali menoleh ke Abin. “Inget ya, jangan ngebut-ngebut!”

Setelah Jisya benar-benar memasuki rumahnya, ponsel Abin kembali bergetar dan lagi-lagi mendapatkan panggilan dari kontak bernama Leo. “Iya, Sayang…. Maaf ya tadi masih latihan band. Jadi, nggak bisa angkat telepon kamu. Ini aku udah di jalan buat jemput kamu." Abin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima lebih lima menit. "Kamu tunggu di sana. Sepuluh menit lagi aku sampai.”

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
72 Bab
บทนำ
เธอกลับมาแล้ว…ภานุยืนนิ่งอยู่ปลายทางเดินของโรงพยาบาลข้างตัวคือบอร์ดประกาศรายชื่อแพทย์เวรประจำแผนกตัวหนังสือขาวบนพื้นดำชัดเจนชื่อของเธออยู่ตรงนั้น — ชื่อที่เขาไม่เคยลืม“พญ.เจนนิส ศัลยแพทย์ทรวงอก”ชื่อที่เคยผูกอยู่กับพี่สาวของเขาชื่อที่เคยทำให้ผู้หญิงอย่าง ‘ยิหวา’ ร้องไห้เงียบ ๆ ทั้งคืนและชื่อเดียวกันนี้แหละ…ที่เขาเฝ้ามองมาตลอดในความเงียบ —ในฐานะ “แฟนเก่าของพี่สาว”ในฐานะ “ผู้หญิงที่เขาไม่ควรคิดอะไรเกินเลย”แต่เขาคิดและเขาคิดมาตลอดตอนแรกเขาแค่อยากรู้…ว่าเธอเป็นคนยังไงคนที่หักอกพี่สาวเขาแล้วเดินจากไปหน้าตาเฉยคนที่เลือก “ทุนต่อเฉพาะทาง” แทนที่จะอยู่กับพี่เขาคนที่กลับมาโดยไม่มีแม้แต่คำขอโทษแต่พอได้เห็นเธอในชุดกราวน์ในห้องผ่าตัดในแววตาเด็ดขาดกับคนไข้ในรอยยิ้มที่ไม่เคยเอ่ยถึงใครใหม่หลังกลับมาเขาก็รู้…เธอแม่ง…โคตรเหมือนพี่เขาเหมือนเกินไปเหมือนจนอยากขังไว้กับตัวเองคนเดียวและเขา—ภานุ น้องชายของยิหวาก็ไม่เคยรู้ตัวเลย…ว่า …เขารักผู้หญิงแบบพี่และอยากได้ผู้หญิงของพี่ตั้งแต่เมื่อไหร่กันแน่…....กริ่ง…กริ่ง…กริ่งเสียงโทรศัพท์ดังขึ้นในช่วงที่ผมกำลังเปลี่ยนเสื้อหลังออกเวรเส
Baca selengkapnya
บทที่ 1
ผมเดินมาถึงหน้าห้องผ่าตัดตอนที่เธอ—หมอเจนนิส—ทรุดตัวลงนั่งอยู่กับพื้นน้ำตาเธอไหลไม่หยุด ร่างทั้งร่างสั่นเหมือนเด็กที่เพิ่งเผชิญโลกที่โหดร้ายเกินไปและผมมองเธอ… ในฐานะน้องชายของคนที่เธอรักผมไม่ได้เกลียดเธอแต่อาจไม่เข้าใจในแบบเดียวกันเพราะสำหรับผม—ในฐานะหมอ—มีอย่างเดียวที่เราห้ามแพ้ คือ ความกลัว“พี่ไม่ต้องห่วง ผมจะดูแลเขาเอง”ผมพูดด้วยเสียงเรียบ เหมือนพูดกับญาติของคนไข้คนหนึ่ง แต่นัยน์ตาเต็มไปด้วยความหมาย…ไม่ใช่เพราะผมเก่งกว่าเธอไม่ใช่เพราะผมกล้ากว่าเธอแต่เพราะผมไม่มีทางยอมให้ใครต้องเย็บศพพี่สาวตัวเอง⸻บนเตียงผ่าตัดผมยืนข้างอาจารย์หมอ คีมในมือมั่นคง มีดผ่าตัดเฉียบคมเย็นเฉียบพี่สาวผมนอนนิ่งเหมือนคนนอนหลับ…แต่ผมรู้ดี ว่าความเงียบตรงนั้นมันเสียงดังแค่ไหนในใจผม“เราต้องช่วยเขาให้รอด…” ผมพึมพำในใจเหมือนสาบานผมไม่มีวันให้ยิหวากลายเป็นอีกหนึ่งชื่อที่ต้องสลักไว้ในความทรงจำเธอเป็นพี่สาวผม… เป็นคนที่ผมเคยวิ่งตามตั้งแต่เด็กและครั้งนี้—ผมจะเป็นคนวิ่งนำเพื่อพาเธอกลับบ้านให้ได้แสงสีขาวสว่างจ้าเหนือศีรษะทำให้ผมรู้สึกเหมือนโลกทั้งใบกำลังจับจ้องมาที่ปลายนิ้วของตัวเองอุณหภูมิในห้องเย็นเ
Baca selengkapnya
บทที่ 2 คุณมันใจร้าย NC
ภานุปิดประตูห้องพักแพทย์เสียงดัง “กึก”เสียงล็อคประตูกลืนเข้าไปในความเงียบของห้องที่ไร้แสงไฟทุกดวงดับสนิทมีเพียงแสงจากหน้าจอที่ค่อย ๆ สว่างขึ้นภาพของเธอ—เจนนิสปรากฏอยู่ตรงนั้นบนหน้าจอที่เขาเปิดไว้ล่วงหน้าภาพใบหน้าที่เขารู้จักดีภาพรอยน้ำตาในวันที่เธอหมดทางหนีเสียงสะอื้นเบา ๆ ที่ยังหลอนอยู่ในหูเขาทุกคืนและแววตาที่เหมือนหลงทาง…จนตรอก…และน่าค้นหาจนแทบคลั่งภานุนั่งลงช้า ๆไม่พูดอะไรเขาแค่มองมองภาพนิ่งที่ยังส่งอารมณ์เหมือนมีชีวิตเหมือนเธอยังนั่งอยู่ตรงนั้นเหมือนเสียงในหัวเขากำลังเอ่ยชื่อเขาเบา ๆ ผ่านน้ำตาเขาขยับนิ้วช้า ๆปลดกระดุมเสื้อแพทย์ทีละเม็ด…เสียงเสื้อคลุมลื่นไถลไปกับผิวเนื้อที่เริ่มร้อนจัดมืออีกข้างแตะที่อกตัวเองลูบขึ้นลงช้า ๆ ตามแรงหายใจที่หนักขึ้นโดยไม่รู้ตัวร่างกายภานุเอนพิงพนักเก้าอี้ เสียงหายใจเริ่มกระทบความเงียบในห้องเหมือนอะไรบางอย่างกำลังปะทุจากข้างในความรู้สึกร้อนวูบไล่ขึ้นตามผิวจากปลายนิ้วที่ลูบผ่านแผงอกไล่ลงหน้าท้องอย่างไม่ตั้งใจ…แต่จงใจทุกจังหวะเสียงเอื้อนครางต่ำ ๆ ถูกปล่อยออกจากลำคอราวกับกลั้นไว้ไม่ได้เหมือนอารมณ์ที่สะสมมาตลอดหลายปีเพิ่งได้รับก
Baca selengkapnya
บทที่ 3 ครั้งนี้ไม่อยากพลาดเหรอครับ
ห้องผ่าตัดเวลาเกือบเที่ยงคืนไฟยังไม่ดับ และเสียงหัวใจของคนไข้บนจอก็ยังดังอยู่เป็นจังหวะภานุยืนมองผ่านกระจกบานหนาเขาไม่ได้เข้าไปมีส่วนร่วมในเคสคืนนี้เพราะเขาอยากดู เธอ ทำงาน — แพทย์ใหม่ของแผนก… เจนนิสเธอสวมชุดกราวน์สีเขียวเข้ม ผูกผมไว้เรียบแผ่นหลังใบหน้าแม้ซูบลงจากวันที่กลับมาใหม่ ๆ แต่แววตาในตอนนี้แน่วแน่จนคนมองเผลอสะท้าน“กดการบีบตัวของหัวใจไว้ให้เสถียรก่อน — พี่หมอจะดูตรงนี้”เสียงเจนนิสชัดเจนในห้องกดดัน เธอกำลังผ่าตัดเด็กวัย 5 ขวบ ที่หลอดเลือดใหญ่ฉีกขาดจากอุบัติเหตุเลือดกระเซ็นไปตามถุงมือและแขนเสื้อแต่เธอไม่ได้ขยับแม้แต่น้อยกลับยิ่งนิ่ง ยิ่งมั่นคง และเด็ดขาดราวกับนักรบในสนามรบ“หมอเจนนิส… เราจะเย็บทันมั้ยครับ…”อินเทิร์นคนหนึ่งถามเสียงสั่นข้างเธอเธอเงยหน้าขึ้นสบตา“ไม่ใช่เรื่องของทันหรือไม่ทัน — แต่เราต้องทำให้มันรอด”น้ำเสียงนั้น…หัวใจภานุเหมือนถูกบีบไว้ในมือใครสักคนมันคือคำพูดเดียวกับที่ยิหวาเคยพูดกับเขาในวันหนึ่ง ที่แม่ของเพื่อนสนิทพวกเขากำลังจะเสียชีวิต“พี่จะไม่ปล่อยให้เขาตายอยู่ตรงหน้าเราทำไม่ได้หรอก ถ้ารู้ว่ายังมีอะไรที่พอจะช่วยเขาได้อีกนิดเดียว”ดวงตาเจนนิสในต
Baca selengkapnya
บทที่ 4 ถ้ามันต้องแลก
เจนนิสเดินกลับมาที่ห้องพักแพทย์…ห้องเดิมที่เคยมีรอยยิ้ม เสียงหัวเราะ และเงาของใครบางคนตอนนี้มันเงียบเกินไป… จนได้ยินเสียงหัวใจตัวเองเต้นแผ่วเบาเธอวางแฟ้มคนไข้ลงบนโต๊ะ ก่อนจะยืนนิ่งมองไปรอบห้องที่ตรงมุมนั้น… ยิหวาเคยนั่งพิงกำแพงเล่นหมากฝรั่งที่ตรงโซฟานั้น… ยิหวาเคยนอนหลับตอนรอเธอผ่าตัดเสร็จเธอจำได้แม้แต่กลิ่นสบู่ของอีกฝ่ายที่ยังดูเหมือนลอยค้างอยู่ในอากาศห้าปี…ห้าปีที่เธอทิ้งยิหวาไว้ข้างหลังเพื่อวิ่งตามอนาคตของตัวเองห้าปีที่เธอคิดว่ายิหวาเกลียดเธอ เพราะเธอไม่เคยได้รับคำตอบกลับแต่สิ่งที่เธอเพิ่งรู้เมื่อกี้…คือการเลือกเดินของเธอในวันนั้นมันทำให้ใครบางคน “พัง”พังทั้งที่ยังหายใจเจนนิสดึงแฟ้มออกมาเปิด แต่สายตาเธอกลับเบลอเพราะม่านน้ำตานิ้วมือสั่น… หัวใจสั่นกว่าเธอทรุดตัวลงนั่งบนเก้าอี้ เงยหน้าพิงพนัก พยายามหายใจลึกแต่กลับสะอื้นเบา ๆ ออกมาแทน“เราทำอะไรลงไปวะ…”เสียงที่หลุดออกมานั้น ไม่ใช่ของหมอที่เข้มแข็งแต่เป็นของผู้หญิงคนหนึ่งที่กำลังต่อสู้กับความรู้สึกผิดในอดีตเธอเคยบอกตัวเองว่าทำดีที่สุดแล้วแต่ตอนนี้… เธอเริ่มสงสัยว่าสิ่งที่เธอเลือกในวันนั้นมันเรียกว่า “ดีที่สุด” จริงไ
Baca selengkapnya
บทที่ 5 ‘ความรัก’ หรือ ‘อนาคต’
เจนนิสนั่งพิงผนังห้อง มือยังถือโทรศัพท์ที่ขึ้นข้อความเดิมซ้ำซากของยิหวาแม้หน้าจอจะดับลงแล้ว แต่มันก็ยังติดอยู่ในหัวเธอเหมือนเสียงของใครบางคนที่ไม่เคยหยุดรอคำตอบน้ำตาไหลลงมาเงียบ ๆเหมือนหล่นจากจุดที่ลึกที่สุดของใจเธอกอดเข่าตัวเองไว้แน่น ไม่ใช่เพราะหนาวแต่เพราะรู้สึกว่าร่างทั้งร่างมันเบาหวิวเหมือนสิ่งที่เธอคิดว่าควบคุมได้…พังทลายลงหมด“มันก็คงไม่แปลก…”เธอพึมพำกับตัวเองเสียงแผ่ว“ที่เขาจะพูดแรงใส่ฉันแบบนั้น…”เธอไม่เคยคิดเลยว่าการหายไปของเธอในวันนั้นจะกลายเป็นจุดเริ่มต้นของการพังทลายของใครอีกคนเธอเคยคิดแค่ว่า…ขอแค่ให้ได้มีวันสุดท้ายกับยิหวาขอแค่ได้หัวเราะได้จับมือได้จูบลาในวันที่เธอตัดสินใจจะไปเรียนต่อ“ฉันเห็นแก่ตัวใช่ไหมยิหวา…”เจนนิสถามออกไปในอากาศไม่มีคำตอบใดตอบกลับมีเพียงความเงียบที่โอบล้อมเธอไว้พร้อมกับความรู้สึกผิดที่กัดกินหัวใจช้า ๆ“ฉันน่าจะบอกเธอให้เร็วกว่านั้น…”“ฉันไม่ควรปล่อยให้เธอรู้ความจริงแค่ไม่กี่ชั่วโมงก่อนฉันจะขึ้นเครื่อง…”เพราะเธอกลัว…กลัวว่าถ้าเธอเปิดปากบอกเร็วกว่านั้น เธอจะใจอ่อนจะตัดใจจากยิหวาไม่ได้จะเลือก ‘ความรัก’ แทน ‘อนาคต’และเพราะความกลัว
Baca selengkapnya
บทที่ 6 ขอร้องละ
แผนกฉุกเฉิน – ช่วงหัวค่ำภานุยืนอยู่หน้าห้องพักพยาบาล ก่อนเดินเข้าไปถามเสียงสุภาพ“พี่ ขอรบกวนถามอะไรหน่อยได้มั้ยครับ…พี่เคยทำงานกับหมอเจนนิสมาก่อนใช่ไหม?”พยาบาลหญิงวัยกลางคนที่นั่งจัดแฟ้มชะงักเล็กน้อยก่อนเงยหน้าขึ้น พอเห็นหน้าเขา เธอยิ้มบางๆ อย่างเป็นมิตร“จำได้สิคะ หมอเจนนิส คนที่ทั้งโรงพยาบาลเรียกกันว่า ‘คุณหมอน้ำแข็ง’ ใช่ไหมล่ะ”ภานุพยักหน้า“คุณหมอน้ำแข็ง?”พี่พยาบาลหัวเราะในลำคอเบาๆ ก่อนพูดต่อ“ใช่ค่ะ เธอใจเย็นมากนะ ไม่มีใครเคยเห็นหมอเจนนิสโวยวายหรือหัวเสียกับคนไข้เลยค่ะ ไม่ว่าเคสจะหนักแค่ไหน เธอก็วางสีหน้าเรียบนิ่งตลอด ดูเป็นคนที่ควบคุมทุกอย่างไว้ได้ตลอดเวลา…”ภานุฟังเงียบๆ ขณะพี่พยาบาลวางแฟ้มลงแล้วเริ่มเท้าแขน เล่าด้วยท่าทางจริงจังขึ้น“แต่…มีอยู่คนหนึ่งค่ะ ที่ทำให้หมอเจนนิส ‘ไม่เหมือนเดิม’”ภานุเลิกคิ้วทันที“ใครครับ?”พี่พยาบาลถอนหายใจยาว “คนไข้ VIP ที่มาแล้ว ‘เจ็บตัว’ ทุกทีไงคะ สูง ขาว หน้าคม ผมตรงยาว…แต่แววตาโคตรดื้อเลย”ภานุเริ่มรู้แล้วว่าเป็นใคร“ทุกครั้งที่เธอคนนั้นมา แผนกจะวุ่นวายเสมอค่ะ เจ็บตัวบ้าง โดนยิงบ้าง หัวแตกบ้าง บางทีแค่เดินมาเฉย ๆ หมอเจนนิสก็ออกมารับด้วยตัวเ
Baca selengkapnya
บทที่ 7 พี่ไม่แค้นหรอ!!
เสียงเคาะประตูดังขึ้นเบา ๆไม่ใช่จังหวะเร่งเร้า…แต่ก็ไม่ใช่การเคาะที่ไร้จุดหมายยิหวาละสายตาจากแฟ้มคดีที่เปิดอยู่บนโต๊ะหันไปมองประตูด้วยแววตานิ่งสงบ ก่อนจะเดินไปเปิดประตูเปิดออกช้า ๆเผยให้เห็นร่างของน้องชายที่ยืนอยู่ตรงนั้น สีหน้าเคร่งเครียดกว่าปกติ“…มีอะไร?” ยิหวาถามเรียบ ๆ แต่สายตากำลังสแกนไปทั่วร่างน้องชายเธอรู้ว่าเขาไม่ใช่คนจะเดินมาหาเธอตอนกลางคืนเพียงเพราะเรื่องเล่น ๆภานุเงียบไปครู่หนึ่ง ก่อนจะพูด“หมอเจนนิสกลับมาแล้ว”คำพูดนั้นราวกับทิ้งความเงียบทั่วทั้งห้องเงียบเสียจนได้ยินเสียงเครื่องปรับอากาศที่พึ่งเริ่มทำงานเบา ๆภานุนั่งลงบนเก้าอี้อีกฝั่งของโต๊ะในห้องเงียบ มีเพียงเสียงจุดไฟแช็ก และเสียงสูดควันบุหรี่ของยิหวาที่นั่งพิงพนักพิงอยู่ฝั่งตรงข้ามแสงไฟสีส้มสะท้อนกับดวงตาคู่นิ่งที่มองออกไปนอกหน้าต่างยิหวายิ้มบาง ๆ ขณะปล่อยควันสีขาวให้ลอยหายไปในอากาศ“กลับมาก็ดีแล้วนิ เขาเป็นหมออยู่กับโรงพยาบาลก็ดีแล้ว”เสียงของเธอนิ่งไร้อารมณ์เหมือนพูดถึงคนไกลที่ไม่มีส่วนเกี่ยวข้องอีกต่อไปภานุมองพี่สาวเงียบ ๆ ก่อนจะถามเสียงต่ำ“แล้วพี่ไม่คิดจะไปหาเขาเลยเหรอ…ไปปรับความเข้าใจ อะไรแบบนั้น?
Baca selengkapnya
บทที่ 8 จุดเริ่มต้น
ในทุก ๆ วัน ตั้งแต่เจนนิสย้ายมาอยู่ที่แผนกของภานุเขาไม่เคยเห็นเธอได้พักจริง ๆ สักครั้งเธอยังคงเป็นคุณหมอน้ำแข็งคนนั้น — สีหน้าเรียบเย็น คล่องแคล่วและเด็ดขาดในห้องผ่าตัดแต่ในแววตาของเธอกลับมีบางอย่างที่เปลี่ยนไปมันไม่ใช่แค่ความเหนื่อยล้าแต่เหมือนคนที่กำลังชดใช้สิ่งที่ตัวเองก็ไม่แน่ใจว่าจะไถ่บาปได้เมื่อไหร่เจนนิสเอาแต่ทำงานบางวันลืมแม้กระทั่งกินข้าวบางคืนยังเห็นเธอเดินออกจากห้องผ่าตัดตอนตีสาม ด้วยสายตาว่างเปล่าเหมือนวิญญาณยังลอยวนอยู่กับเคสก่อนหน้า“เธอเหมือนคนที่กำลังไถ่บาป… ด้วยชีวิตตัวเอง”ภานุเฝ้าสังเกตเขาไม่เข้าใจทั้งหมด แต่ก็รู้ว่าเจนนิสไม่ได้ใช้ชีวิตอย่างคนปกติเธอไม่ได้อยู่เพื่ออนาคต แต่เหมือนอยู่เพื่อแก้ไขอดีตกระทั่งวันหนึ่ง…วันที่ภานุได้รู้ว่าพี่สาวของเขา — ยิหวาผู้หญิงที่เขาคิดว่าไม่มีอะไรในโลกทำให้ใจอ่อนแอได้อีกเปิดใจให้ใครบางคนอีกครั้ง…และชื่อของคนนั้นคือ… ทินภัทรภานุจำได้ดี — วันที่ยิหวาเมินสายตาที่เขาถามถึงอดีตเธอยิ้ม สูบบุหรี่ และพูดว่า“ตอนนี้พี่ก็มีความสุขดี ใช้ชีวิตไปวัน ๆ ทำงาน ไม่ต้องกลัวว่าจะทำให้ใครร้องไห้เวลาเจ็บตัว”…แต่เบื้องหลังคำพูดนั้นคืออะ
Baca selengkapnya
บทที่ 9 ลองเข้าใจหัวใจใครสักคน
ระหว่างที่ทั้งสองกำลังเดินกลับแผนกภานุสังเกตว่าเจนนิสยังไม่พูดอะไรอีกเลยตั้งแต่ออกจากบันไดหนีไฟเธอยังคงเงียบ ใบหน้าสงบลงแล้ว แต่ใต้ตายังมีคราบน้ำตาจาง ๆ เหลืออยู่ทันใดนั้นเสียงโทรศัพท์มือถือของภานุดังขึ้นเขารับสายทันที และสีหน้าก็เปลี่ยนไปในพริบตา“ครับ… เด็กอายุห้าเดือน..หัวใจโต”เจนนิสหันมามองทันทีถึงแม้เธอจะยังดูอ่อนแรง แต่แววตานั้นกลับคมชัดขึ้นราวกับเปิดสวิตช์ภานุวางสาย พร้อมรีบก้าวเดินเร็วขึ้น“เด็กเพศชาย ห้าเดือน มีอาการเหนื่อยหอบ หายใจลำบากมาตั้งแต่เช้า พอเช็กพบว่าหัวใจโตผิดปกติ ต้องตรวจเช็กด่วน พยาบาลกำลังเอาตัวขึ้นมาที่ห้องตรวจ”เขากำลังจะเร่งฝีเท้าอยู่แล้วแต่เสียงเรียบนิ่งของเจนนิสก็ดังขึ้น“ขอฉันเข้าเคสนี้ด้วยได้ไหม”ภานุชะงัก หันไปมองเธอเจนนิสยืนตรง หน้าเรียบ แต่แววตานั้นแน่วแน่แม้จะยังมีน้ำตาค้างอยู่ แต่แววตาแบบนั้นคือแววตาของหมอคนเดิมที่เขาเคยเห็นเมื่อห้าปีก่อน“ฉันเป็นศัลยแพทย์ทรวงอก และเคยรับเคสเด็กแบบนี้มาก่อน… ขอฉันดูด้วยได้ไหม ภานุ”เขาไม่ตอบทันที เพียงแต่พยักหน้าแล้วทั้งสองก็รีบเดินไปยังห้องฉุกเฉินด้วยกันในวินาทีนั้นความเจ็บปวดเมื่อครู่เหมือนถูกพักเอาไว
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status