Masukถ้าคุณ ‘ยั่ว’ ผมก่อน…ก็อย่าหวังว่าจะรอดกลับไป “ผมจะทำให้คุณเปลี่ยนครางชื่อพี่..มาเป็นชื่อผม!!!” เมียเก่าพี่ก็เหอะถ้าเธอยังครางชื่อผมได้ ผมก็จะเอาให้สุด ถ้าผมลบทุกสัมผัสของพี่ออกไปจากร่างคุณ ได้คุณจะยอมเป็นของผมไหม?
Lihat lebih banyak“Abin, jangan ngerokok terus!”
Seorang gadis berambut cokelat sepinggang merebut korek api yang hampir menyulut sebatang rokok yang terselip di bibir seorang laki-laki. Gadis itu berkacak pinggang seraya memelototkan mata. Bibir tipisnya tertekuk hingga pipi tirusnya itu menggembung. “Iya, Jisya sayang ...." Laki-laki bernama Abin itu terkekeh seraya menekan pipi gadis itu dengan kedua telapak tangannya. “Kan udah aku bilang, kalau rokok itu nggak baik buat kesehatan. Kamu nggak kasihan sama paru-paru? Nggak kasihan sama aku juga kalau kena asapnya? Perokok aktif sama perokok pasif itu lebih berisiko perokok pasif, Abin.... Kamu mau aku mati muda?” Sementara Jisya berceloteh panjang lebar, Abin hanya menopang pipi menatapnya dengan tersenyum. Ingin rasanya menggigit pipi chubby kekasihnya itu saking menggemaskannya . Sadar ditatap Abin dengan tatapan tak biasa, Jisya langsung mengatupkan mulutnya. “Ih, Abin! Kok ngelihatian nya gitu sih?” Senyuman Abin perlahan berubah menjadi kekehan ringan yang menawan. “Cie, salting ya?” goda laki-laki itu dengan mencolek dagu Jisya. Apa daya Jisya yang imannya lemah, tak kuasa menahan semburat merah muda di pipiya. Dia tersipu dengan perlakuan kecil dari Abin. “Enggak. Siapa juga yang salting?” Bagaimana pun Jisya tetap mempertahankan gengsinya di hadapan Abin. Tidak mau membiarkan Abin semakin menggodanya kalau tahu dia tengah salah tingkah. “Oh ... yakin, nggak salting?” “Abin, apaan sih? Kamu jangan ngalihin pembicaraan! Kita lagi bahas rokok, oke?” Abin berdeham tiga kali seperti orang yang hendak mengawali sebuah pidato. “Gini ya, Jisya sayangku ... rokok itu udah jadi kebutuhan buat aku. Kalau aku nggak ngerokok, rasanya tuh kayak ada yang kurang. Kayak kamu yang hobinya shopping. Emangnya kamu bisa tahan buat nggak shopping?” ucap Abin seraya menyisipkan helai demi helai rambut kebelakang daun telinga Jisya. Jisya membalas perlakuan Abin dengan merapikan rambut Abin yang berantakan. Mengusap peluh di sekitar pelipisnya dan berakhir menagkup kedua pipi laki-laki itu. “Itu namanya kamu udah kecanduan, Abin sayang …. Kalau kamu nggak berhenti dari sekarang, nanti lebih susah lho ngilanginnya. Lagian, aku kan nggak suka shopping. Nggak perlu kamu cari pembanding yang sia-sia.” Abin mengorek telinga kanannya dengan telunjuk. Seolah mendegarkan ceramah Jisya lama-lama bisa membuat gendang telinganya pecah. Sudah satu bulan berpacaran, selalu itu itu saja yang mereka bahas. Seperti tidak ada pembahasan lain saja. Dan selama itu juga Abin tetap tidak berubah. Ucapan Jisya hanya seperti angin lalu baginya. Yang lebih ajaib lagi, meskipun jenuh dengan ocehan Jisya, Abin tetap dengan sabar mendengarkannya. Entah dia akan menurutinya atau tidak, itu urusan belakangan. Yang terpenting ketika Jisya bicara dia merasa didengarkan. “Ya udah, gini aja, kalau kamu kasih aku kiss sekali aja, aku bakal berhenti ngerokok. Gimana?” Abin mengetuk-ngetuk bibirnya menggoda Jisya. Jisya pun seolah memberikan reaksi untuk tawaran Abin. Dia memutar-mutarkan pandangannya seperti mempertimbangkan sesuatu. “Hm ….” Jisya menggantungkan kalimatnya membuat Abin semakin tidak sabar. “Gimana? Mau nggak?” tawar Abin lagi. Dan Jisya hanya menjawabnya dengan satu kata. “Enggak.” Penolakan Jisya itu membuat Abin menghela napas dengan kecewa. “Ya udah, kalau gitu aku tetep ngerokok,” jawab Abin berpura-pura tak acuh dan kembali mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya. “Abin!” Melihat Jisya membentaknya dengan pelototan tajam, Abin benar-benar tak bisa berkutik. Dia memasukkan kembali batang rokok itu ke dalam kotak dan meletakkannya di atas meja. “Bercanda, Sayang …,” rayunya kembali. Jisya kembali menekuk bibirnya dengan kesal. Abin itu masuk dalam kategori bad boy. Suka merokok, mabuk-mabukan, bahkan bolos kuliah. Berpacaran dengannya membuat Jisya mengelus dada setiap hari. Dia bertekad ingin mengubah laki-laki itu menjadi lebih baik. Di saat Abin berusaha merayu Jisya, tiba-tiba ponsel yang dia letakkan di atas meja bergetar dan memunculkan panggilan dari kontak bernama Leo. Jisya yang menyandarkan bahunya dengan tangan terlipat di depan dada melirik ponsel Abin dan tanpa sengaja membaca nama kontak yang meneleponnya. Bukannya menerima pangilan itu, Abin justru menggeser tombol merah. “Kok direject?” Jisya heran saja dengan Abin yang seenaknya menolak panggilan orang lain. “Dianggkat dong, Abin! Siapa tahu penting.” Bukannya menjawab pertanyaan Jisya, Abin justru tersenyum jail dan mencolek dagu gadis itu. “Udah nggak ngambek lagi nih ceritanya?” Jisya menangkis tangan Abin. “Pokoknya kalau kamu masih ngerokok, kita putus aja. Aku nggak mau deket-deket sama perokok.” Abin tahu Jisya tidak serius mengatakannya. Abin juga tahu Jisya itu tidak bisa jauh-jauh darinya. Lebih dari dua puluh tahun dia hidup, dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang laki-laki. Ayahnya sudah meninggal semenjak dia masih di dalam kandungan. Dan kehadiran Abin membuatnya merasa selalu nyaman dan dilindungi. Jisya memang bisa mengendalikan perilaku Abin. Bahkan dia membuat Abin kesal dan gemas dalam satu waktu. Sebaliknya, Abin juga bisa mengendalikan hati Jisya. Dia bisa membuat Jisya was-was dan kasmaran dalam waktu bersamaan. Mana bisa Jisya memutuskan Abin kalau seperti itu. Lagi-Lagi ponsel Abin bergetar mendapat panggilan dari orang yang sama untuk kedua kalinya. “Diangkat, Abin!” Abin tetap tidak peduli dengan perintah Jisya. Dia kembali menggeser tombol merah, lantas memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Setelah itu dia menarik lengan Jisya agar gadis berdiri dari tempatnya. Jisya yang masih dalam mode merajuk dengan malas mebiarkan tubuhnya mengikuti pergerakan Abin. “Udah sore. Yuk, aku antar pulang. Nanti dimarahi Mama lho,” ucap Abin seraya merapikan rambut pajang Jisya yang berantakan. Jisya menatap Abin dengan menahan senyumannya. Dia benar-benar tidak bisa lama-lama marah pada laki-laki berwajah cuek itu. Bagaimana bisa marah jika dia selalu memperlakukan Jisya bak putri raja. “Biasa aja ngelihatinnya. Aku tahu kalau aku ganteng.” Dengan mudahnya Abin mencubit hidung mancung Jisya. Jisya pun langsung memutuskan pandangannya dari Abin dan melihat ke arah lain. “Leo itu siapa sih? Kok aku nggak pernah tahu kamu punya teman namanya Leo?” tanya Jisya penasaran. Abin tetap melanjutkan acaranya merapikan seragam Jisya dan berganti mengusap rok belakang Jisya yang berdebu. “Temen aku kan banyak. Emang kamu hafal semua temen aku?” “Ya, enggak sih. Tapi mau dong dikenalin sama temen kamu yang namanya Leo itu. Aku suka banget kalau ada cowok namanya Leo. Pasti keren banget orangnya.” Mendengar permintaan dari Jisya, Abin seketika menghentikan pergerakannya dan menjauhkan tangannya dari rok Jisya. “Jangan! Nanti kamu malah suka lagi sama dia.” Jisya memang selalu suka melihat wajah cemburu Abin. Ketika laki-laki itu cemburu, Jisya merasa menjadi gadis paling cantik sedunia. Setelah memastikan seragam Jisya sudah rapi kembali, Abin mengambil jaket hitam yang dia gantung di stand hanger. Satu persatu lengan jaketnya dia pakaikan pada Jisya dengan penuh perhatian. Sudah biasa bagi Jisya mendapat perlakuan manis Abin. Mungkin mereka baru satu bulan berpacaran dan bahkan belum saling mengenal semakin dalam, tapi Jisya semakin yakin Abin adalah sosok yang pantas untuknya. Tumbuh dengan sisi lain yang manja mebuatnya merasa cocok bersama Abin yang perhatian dengan hal-hal kecil tentangnya. Abin menyelipkan kelima jarinya di sela-sela jemari Jisya. Menuntunnya keluar dari ruangan itu untuk segera mengantarkannya pulang. Sejak pulang sekolah Abin langsung mengajak Jiysa ke rumahnya untuk menyaksikan bandnya berlatih. Di rumahnya memang ada studio musik yang sudah disiapkan oleh ayahnya yang juga merupakan pecinta musik. Abin dan dua temannya memberi nama bandnya dengan nama AFK. Bukan berarti kalah, melainkan diambil dari insial ketiga personilnya. Abin vokalis, Fras gitaris dan Kaffa yang menjadi drummer. Meskipun pada umumnya vokalis yang mendapat perhatian lebih dari fansnya, tapi di AFK mereka sama rata. Tidak ada yang lebih populer, tidak ada yang paling tenggelam. Setelah memasang helmnya dengan benar, Jisya naik ke atas motor Harley Davidson milik Abin. Dari kaca spionnya, Abin bisa melihat Jisya sudah duduk manis dengan melingkarkan tangan di pinggangnya. Dia pun melajukan motornya dengan kecepatan maksimal. Menyusuri lalu lintas ibu kota yang semakin ramai karena bertepatan dengan karyawan-karyawan yang juga pulang bekerja. Jisya menyandarkan kepalanya di punggung Abin dengan mata terpejam. Dia selau takut setiap diajak Abin kebut-kebutan. Tentu saja Jisya masih sayang nyawa. Dia masih ingin pulang dengan keadaan selamat dan melihat senyuman mamanya. Sedangkan Abin yang menjadi tersangka ketakutan Jisya, hanya mengulas senyum tak berdosa sambil melirik Jisya dari kaca spion. Ketika Abin menurunkannya di depan rumah, Jisya tak berhenti menggerutu pada Abin. “Udah dibilangin, kalau naik motor jangan ngebut susah banget sih, Abin? Aku nggak mau ya mati muda!” Seperti biasa, ketika Jisya mengomel panjang lebar, Abin hanya memandanginya saja dengan senyuman yang menawan membiarkan gadisnya itu menyelesaikn ucapannya sediri. “Ih, Abin! Kamu denger nggak sih?” kesal Jisya. “Iya, Jisya… aku denger kok. Ya udah, masuk, gih! Besok aku jemput. Bye, Sayang….” Abin segera melepas helm yang dipakai Jisya. Cara itu berhasil membuat Jisya berhenti mengomel dan menarik napas panjang. “Ya udah, kamu buruan pulang. Jangan lupa, besok antar aku pemotretan.” Baru membuka gerbangnya, Jisya kembali menoleh ke Abin. “Inget ya, jangan ngebut-ngebut!” Setelah Jisya benar-benar memasuki rumahnya, ponsel Abin kembali bergetar dan lagi-lagi mendapatkan panggilan dari kontak bernama Leo. “Iya, Sayang…. Maaf ya tadi masih latihan band. Jadi, nggak bisa angkat telepon kamu. Ini aku udah di jalan buat jemput kamu." Abin melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul lima lebih lima menit. "Kamu tunggu di sana. Sepuluh menit lagi aku sampai.”เช้าวันนี้ แสงอรุณอุ่นนวลเล็ดลอดผ่านผ้าม่านสีครีมเข้ามาในห้องพักผู้ป่วยความเงียบสงบของยามเช้าถูกเติมด้วยเสียงฝีเท้าเบา ๆ ของภานุที่เดินมาหยุดข้างเตียง เขาก้มลงตรวจชีพจรเจนนิสอย่างชำนาญ ก่อนจะใช้เครื่องฟังเสียงหัวใจลูก ๆ ที่อยู่ในครรภ์เสียง “ตึกตัก” สองจังหวะซ้อนกันดังชัดเจน…ชวนให้หัวใจพ่อเต้นตามท้องของเจนนิสโตขึ้นพอสมควรแล้วเธอนอนพิงหมอนสูง มองภานุด้วยสายตาอุ่น ๆ ที่เต็มไปด้วยความขอบคุณไม่นาน พ่อและแม่ภานุก็เข้ามาเยี่ยมตั้งแต่เช้าตรู่แม่ถือถุงผลไม้และซุปอุ่น ๆ พ่อแม้จะยังอยู่ในเครื่องแบบ ก็ยังสละเวลามายืนข้างเตียง เอ่ยเพียงสั้น ๆ แต่ชัดเจน “เก่งมากหนู…อีกนิดเดียวก็จะผ่านไปแล้ว”ทุกคนในห้องต่างรู้ดีว่า สิ่งที่เจนนิสเผชิญอยู่ไม่ง่ายและกำลังใจคือยาที่ดีที่สุดสำหรับเธอในตอนนี้ไม่นานนัก ประตูห้องก็เปิดออกหมอคริสในชุดกาวน์สีขาวก้าวเข้ามาพร้อมรอยยิ้มใจดี“อรุณสวัสดิ์ครับคุณแม่ วันนี้ผมมีข่าวดี” หมอคริสเอ่ยขณะตรวจดูผลวัดต่าง ๆ “อาการดีขึ้นมากนะครับ ชีพจร ความดันอยู่ในเกณฑ์ คุณแม่ลองเดินได้บ้างแล้วนะ…ค่อย ๆ ขยับทีละนิด”คำพูดนั้นทำให้บรรยากาศทั้งห้องโล่งใจขึ้นในทันทีเจนนิสเองก็รู้สึก
เมื่อภานุพาเจนนิสเดินมาถึงหน้าห้องแม่ที่โรงพยาบาล ประตูห้องถูกเปิดออกพอดี ร่างสูงใหญ่ในชุดเครื่องแบบทหารเดินออกมาอย่างรีบเร่ง“อ้าว เฮ้ย! มาจากไหนเนี่ย?” ภานุเอ่ยทักทันทีที่เห็นใบหน้าคุ้นเคยภาคินชะงักไปชั่ววูบ หันมายิ้มให้พี่ชาย “ไงพี่ แวะมาจากค่ายน่ะ มาเอาของนิดหน่อย เดี๋ยวต้องรีบกลับไปฝึกต่อแล้ว แม่เรียกมาให้เซ็นเอกสารจดทะเบียนอะไรสักอย่างนี่แหละ”พูดจบก็เหลือบมองนาฬิกา ก่อนขยับจะเดินผ่านไป “ไปก่อนนะ รถมารอแล้ว”ภานุทำหน้างงเล็กน้อย ก่อนตบไหล่น้องชาย “เออ ปลอดภัยด้วยล่ะ ด่วนไปไหนของมันอีกละ…”ภาคินเพียงแต่ยิ้มบาง ๆ โบกมือลาแล้วก้าวฉับ ๆ จากไปโดยไม่หันกลับภานุหันกลับมามองเจนนิส ส่งยิ้มอ่อนโยนให้ “นั่นน้องชายคนเล็กของบ้านผมเอง ชื่อภาคิน นายๆจะเจอกันที ไว้ผมพาไปเจอนะ น้องน่าจะด่วน”เจนนิสพยักหน้ารับ ยิ้มบาง ๆ ก่อนเดินเข้าไปในห้องแม่อย่างเงียบ ๆ ทิ้งเสียงฝีเท้าของภาคินที่จางหายไปกับทางเดินยาวของโรงพยาบาลภานุผลักประตูเข้าไปในห้องรับรอง ทั้งคู่ยกมือไหว้พ่อกับแม่ที่นั่งรออยู่ข้างใน พ่อของภานุในชุดทหารเต็มยศ กำลังนั่งอ่านหนังสือพิมพ์บนโซฟาด้วยท่าทีสงบ เยือกเย็นตามสไตล์ผู้นำครอบครัวเจน
ในห้องนอนที่แสงเช้าสาดผ่านม่านโปร่ง เจนนิสนอนนิ่งอยู่บนเตียง ร่างกายอ่อนล้าจากการแพ้ท้อง แต่หัวใจกลับไม่เหนื่อยล้าอย่างเดิมอีกต่อไปขณะที่ลมหายใจเธอค่อย ๆ สม่ำเสมอ เสียงหัวใจของอีกหนึ่งชีวิตในตัวเธอก็ยังดังก้องในความทรงจำเธอคิดย้อนกลับไปถึงวันที่เคยกลัวครอบครัวกลัวการผูกมัด กลัวความผิดหวัง กลัวจะไม่มีบ้านให้ใครซุกหัวนอน เพราะบ้านในอดีตของเธอไม่เคยอบอุ่นแต่ตอนนี้ แม้ร่างกายจะอ่อนแรงแต่การมีภานุอยู่ข้าง ๆ ทั้งในวันที่หัวเราะ วันที่ร้องไห้ วันที่อ่อนแอทำให้เธอค่อย ๆ มองเห็นความหมายของคำว่า ครอบครัว ใหม่อีกครั้งเจนนิสตกผลึกกับตัวเองว่าความอบอุ่นไม่ได้เกิดจากสถานที่ หรืออดีตที่ผ่านมาแต่มันเริ่มต้นได้จากคนสองคนจากมือที่กอดไว้แน่นจากสายตาที่มองกันด้วยความเข้าใจจากหัวใจที่พร้อมจะเติบโตไปด้วยกัน…แม้จะกลัว แม้จะไม่พร้อมก็ตามวันนี้ เธออาจยังไม่พร้อมสมบูรณ์แต่ก็พร้อมจะ “ลองรัก” ดูอีกสักครั้งพร้อมจะสร้างบ้านหลังใหม่ ให้กับตัวเอง กับภานุ กับลูกน้อยในท้องและกับอนาคตที่เธอจะไม่หนีจากมันอีกต่อไปชีวิตของเธอกำลังเปลี่ยนไป แต่ครั้งนี้ เธอเลือกจะเปลี่ยนไปพร้อมกับคนที่รักและยอมรับในตัวตนของ
หลังออกจากห้องตรวจ แม่ภานุเดินเคียงข้างสองคนด้วยรอยยิ้มอ่อนโยน“เย็นนี้ไปทานข้าวที่บ้านแม่นะลูก แม่จะเตรียมของโปรดให้”ภานุรีบรับคำแล้วพูดแซวแม่ทันที “แต่แม่ครับ เมียผมท้องอ่อน กินอะไรไม่ค่อยได้ ผมดูแลเองได้นะแม่”น้ำเสียงจริงจังแต่ปนหวงแหน ใบหน้าภานุเต็มไปด้วยความภูมิใจในฐานะพ่อบ้านมือใหม่แม่ภานุหันมามองลูกชายแล้วอมยิ้ม “แล้วแกไม่คิดจะแต่งงานกับเขาหน่อยเหรอภานุ?”เสียงพูดเหมือนหยอกแต่สายตานิ่งจริงจังเจนนิสที่เดินข้าง ๆ สะดุ้งนิดหน่อย รีบตอบแทรกเสียงเบา“ไม่เป็นไรค่ะ หนูยังไงก็ได้…”ใบหน้ามีรอยเขินอายเล็ก ๆ ชำเลืองมองภานุอย่างประหม่าแต่ภานุส่ายหน้าทันที ยืนยันหนักแน่น“ไม่ได้หรอกคุณ! ยังไงผมต้องจัดงานแน่นอน—แต่คุณพร้อมตอนไหนบอกผมนะ ผมจะไม่บังคับ”สายตาจริงใจ มือกุมมือเธอแน่นราวกับจะส่งผ่านความมั่นคงในใจทั้งหมดเจนนิสมองเขา ยิ้มอ่อน ๆ พยักหน้าเบา ๆ ใจหนึ่งอบอุ่นใจหนึ่งยังเขินอยู่ลึก ๆแม่ภานุหันไปมองลูกชายแล้วพูดกับน้ำเสียงจริงจังแต่แฝงความเอ็นดู“ช่วงนี้อย่าลงเวรให้หนูเจนนิสนะภานุ ให้เขาพักผ่อนให้มาก ๆ”ภานุหันมาตอบแบบเด็กดี “ค้าบแม่!”เสียงตอบพร้อมรอยยิ้มเต็มแก้ม ทำเอาแม่หัวเราะเบ
นิ้วมือเธอจิกลงกับเส้นผมของภานุ ดึงแน่นเหมือนต้องการควบคุมตัวเองแต่ก็ยิ่งผลักตัวเองให้ดำดิ่งไปกับความรู้สึกนั้นร่างกายดิ้นเล็กน้อยตามจังหวะที่ปลายลิ้นเขาเคลื่อนไหว …บางครั้งสั่นไหว บางครั้งสะท้านแรงจนต้องขยุ้มผ้าปูที่นอนไว้เสียงหายใจของเธอขาดห้วงสลับกับเสียงครางที่หลุดรอดดวงตาปรือพร่า เธอหลับตาพ
เจนนิสเดินกลับมาที่ห้องพักแพทย์…ห้องเดิมที่เคยมีรอยยิ้ม เสียงหัวเราะ และเงาของใครบางคนตอนนี้มันเงียบเกินไป… จนได้ยินเสียงหัวใจตัวเองเต้นแผ่วเบาเธอวางแฟ้มคนไข้ลงบนโต๊ะ ก่อนจะยืนนิ่งมองไปรอบห้องที่ตรงมุมนั้น… ยิหวาเคยนั่งพิงกำแพงเล่นหมากฝรั่งที่ตรงโซฟานั้น… ยิหวาเคยนอนหลับตอนรอเธอผ่าตัดเสร็จเธอ
ผมเดินมาถึงหน้าห้องผ่าตัดตอนที่เธอ—หมอเจนนิส—ทรุดตัวลงนั่งอยู่กับพื้นน้ำตาเธอไหลไม่หยุด ร่างทั้งร่างสั่นเหมือนเด็กที่เพิ่งเผชิญโลกที่โหดร้ายเกินไปและผมมองเธอ… ในฐานะน้องชายของคนที่เธอรักผมไม่ได้เกลียดเธอแต่อาจไม่เข้าใจในแบบเดียวกันเพราะสำหรับผม—ในฐานะหมอ—มีอย่างเดียวที่เราห้ามแพ้ คือ ความกลัว
เธอกลับมาแล้ว…ภานุยืนนิ่งอยู่ปลายทางเดินของโรงพยาบาลข้างตัวคือบอร์ดประกาศรายชื่อแพทย์เวรประจำแผนกตัวหนังสือขาวบนพื้นดำชัดเจนชื่อของเธออยู่ตรงนั้น — ชื่อที่เขาไม่เคยลืม“พญ.เจนนิส ศัลยแพทย์ทรวงอก”ชื่อที่เคยผูกอยู่กับพี่สาวของเขาชื่อที่เคยทำให้ผู้หญิงอย่าง ‘ยิหวา’ ร้องไห้เงียบ ๆ ทั้งคืนและชื่อ