Masukชาติก่อนโดนคนไว้ใจทำร้ายจนตัวตาย...ชาตินี้ข้าเกิดใหม่ขอทวงคืน สิ่งใดที่ข้าได้รับคนที่ทำกับข้าล้วนต้องได้รับ สิ่งใดที่ข้าทนทุกข์พวกมันต้องได้ทุกข์ ที่สิ่งที่พวกมันปรารถนาข้าจะยื้อแย่ง
Lihat lebih banyak"Dih, perasaan cantikan gue, warna kulit juga putihan gue, kenapa dia selalu diperebutkan Lelaki, ya."
Siska iri melihat temannya dari kejauhan yang selalu di dekati Lelaki dan mengobrol dengan dekatnya."Fani ...! Sini deh."Temannya Fani menghampiri."Eh, lo lihat deh si sok cantik itu, kenapa dia selalu di dekati para Lelaki, ya, coba lo lihat gue, cantikan mana gue sama dia! Jawab jujur," tanyaku pada Fani."Secara fisik cantikan elo, tapi kalau lihat auranya kenapa dia lebih enak di lihat, ya. Kalau warna kulit jelas elo Say, putih bersih, nah yang gue bingung ya, itu tadi. Si sok cantik itu ronanya kayaknya wah gimana, gitu."Fani juga menjadi berpikir dan terheran-heran, memang sempat mengucap juga hal yang sama seperti Siska. Kenapa bisa lengket Lelaki kalau sudah mengobrol dengannya."Nah itu dia Fan, sudah dari bulan lalu gue perhatiin tuh burik, lihat aja tuh, Lelakinya pada keren dan oke semua, bisa-bisanya deket sama dia, gimana dong Fan?" Cetusku "Hemm ... Sini deh gue bisikin, loe mau gak pasang susuk?" Lirih Fani di telingaku."Hah, susuk apaan?" Aku juga menjawab terheran dengan suara kekerasaan."Eh, pelan-pelan suara lo! Didenger orang nanti," colek Fani."Ups, sory. Iya gimana susuknya maksudnya, gue gak ngerti Fan," aku mendekatkan telinganya.Fani menarikku ke ruangan yang sepi dan jauh dari orang yang ada di sekitarku malam itu. Aku mengikuti jalannya Fani menuju samping luar gedung."Di sini deh, aman. Jadi gini, susuk itu pemikat, orang yang melihat lo akan terpesona, seperti lagu itu loh,Terpesona .... Aku ... Terpesona, heee. Lo mau gak, kalau mau gue anterin ke tempat orang yang biasa bisa memasang susuk pemikat."Fani menjelaskan sambil bernyanyi."Hemm ...." Tanganku di dagu berpikir sejenak."Mau deh, Fan. Kapan mau ke tempatnya?" Sepertinya aku tertarik dan sangat ingin menyaingi si burik itu."Oke kalau gitu, besok kita berangkat, pagi jam 9 gue telpon lo ya, Say," ajak Fani."Oceee siap."Semangatku menjawab ajakan Fani. Masalah biaya tenang saja, berapapun akan aku bayar asal bisa bersaing dan membuat si burik terpesona. Haaaa. Gumamku berjalan mengikuti Fani lagi, masuk ke dalam."Sepi amat nih kita Fan, malam ini," ungkapku yang duduk menunggu Lelaki yang datang."Santai saja Say, nanti juga ada, kok."Ucapan Fani membuatku merasa lebih santai, memang dia sahabat yang selalu mengisi hariku."Nah kan datang Say, dah sana sambut dia."Cetus Fani menyuruhku menyambut Lelaki yang datang, aku berdiri tersenyum kepadanya. "Boleh juga nih, cowok." Aku mengatakan dalam hati berharap dia memilihku. Lelaki itu tersenyum dan melangkah masuk menuju resepsionis."Loh Fan, dia nunggu siapa?" Tanyaku pada Fani karena sepertinya Lelaki itu mencari seseorang."Iya, ya. Jangan-jangan nunggu si ono, Say.""Coba gue samperin, ya."Aku mendekatinya, merapikan rambutku dan berjalan agar dilihatnya. "Malam, mau buka room?" Sapaku di hadapannya."Iya, tapi nanti, aku nunggu yang biasa," jutek jawabnya."Oh ya sudah, kirain mau denganku."Aku berlalu pergi membalikkan badanku dengan rasa dongkol yang teramat dalam, rasanya ingin pulang saja dan malas kerja."Nunggu siapa dia Say," Fani bertanya menunjuk Lelaki itu."Dia bilang sih nunggu dengan yang biasa menemaninya, tapi ... Siapa?" Otakku ingin menebak si Burik."Oalaa, jangan-jangan si Ono lagi Say atau Icha mungkin juga Meli, tau ah. Coba kita lihat saja," Fani bingung juga karena masih ada 3 temannya lagi termasuk wanita yang jadi pembicaraan mereka."Iya Fan, kita lihat saja siapa nanti."Aku mengiakannya, tidak lama kemudian."Alo Kak, sudah lama nunggu, ya."Ternyata benar saja Lelaki itu menunggu wanita yang membuat Siska iri dan dengki."Cuih ... Tuh Fan, ah! Dia lagi."Kekesalanku bertambah, dia lagi dan lagi."Slow aja Say, nanti kita lihat sampai di mana dia, tenang saja! Kita balas nanti," Fani pun ikut kesal."Fan kita cari makan saja dulu yuk," aku mengajaknya."Yee, nanti ada yang datang gimana?" Ujarnya."Ga ada kali, Fan."Kemudian aku berdiri dan hendak menghilangkan kejenuhan sambil bernyanyi. "Itu Say, ada yang datangkan," Fani mencolek "Weks, bener juga lo Fan, dah lo samperin deh Fan, dia berdua tuh."Celetukku. Fani mendatangi kedua Lelaki itu dan setelah bersama dengan Lelaki itu, Fani memanggilku.Aku melihat lambaian tanggannya menyuruhku menghampiri, dengan cepat menuruti ke arah Fani.Srek ... Srek ... Srek ....Dengan jalan sedikit genit menuju Fani."Kenapa? Fan."Sembari kulontarkan senyuman."Mau buka room Say, yuk," cetus Fani menarikku ke ruangan bernyanyi kamar 5."Oke Deh, yuk."Kami bersama-sama berjalan masuk menuju kamar nomor 5. Aku dan Fani saling menatap dan tersenyum karena ke gabutan kita terobati. Akhirnya bisa dapat pemasukan juga.Jam kerja telah selesai, aku dan Fani pulang ke kosan dan kita berpisah pada sebuah simpang jalan."Sampai besok ya, Say, gue ke kosan lo besok." Ucap Fani."Oke Cantik, gue tunggu, ya."Lanjutku memanggil tukang ojek pengkolan yang biasa menunggu. Tanganku memanggil tukang ojek itu.Sampailah pada kosan yang menjadi tempat tidurku, aku masih bisa tersenyum hari ini, tidak zoonk pemasukan.Masuk membuka pagar dan mengambil kunci kamar dari dalam tasku, lalu masuk dan menyegerakan membersihkan diri dulu. Ahh, cepet tidur deh, besokkan mau jalan.Sudah bersih aku mengganti pakaian dan merebahkan diri, berpelukan dengan guling kesayanganku.****Tok ... Tok ... Tok ...."Siska ...."Fani mengetuk kamar kos Siska dan memanggilnya."Iyaa ... Sebentar."Teriak Siska dari dalam kamar yang baru bangun tidur, beranjak bangun dan langkahnya sembari membersihkan wajahnya dengan tangannya, lalu membuka pintu."Masuk Fan, aku baru bangun, heee. Sebentar ya, aku mandi dulu," aku langsung tinggalkan Fani yang masih di luar pintu."Ya udah sana, mandi dulu," ujarnya dan melangkah masuk ke dalam kamar kosnya Siska.Fani mengambil ponselnya dan mengirim pesan ulang kepada seseorang yang ahli memasang susuk itu."Mbah, sekitar satu jam lagi kami berangkat ke sana, terima kasih Mbah,"Pesan terkirim.Cling ....Masuk balasan dari Mbah."Di tunggu.""Sory lama Fan, bentar gue ganti baju dulu." Gesit langkah Siska berjalan menuju lemarinya mengambil.baju."Tenang saja, Say, nanti kita sarapan dulu, perjalanan lumayan jauh, yo," celetuknya."Iya sarapan dulu, gue juga laper, ih."Siska dengan cepat berpakaian dan lanjut lagi berdandan, kini sudah rapih dan sedang duduk di depan cermin merapikan rambutnya."Yuk, kita berangkat."Siska mengambil tas kecilnya dan merapikan selimutnya serta menarik sprei kasurnya supaya rapih. Mematikan lampu kamar kos dan bersiap untuk berangkat.Mereka berjalan ke luar tempat kos mencari tempat makan terlebih dahulu."Kita makan di sana fan, ada tuh rumah makan."Siska menunjuk tempat makan dekat kosnya."Ya udah, di mana saja deh, yang penting bisa isi perut dulu, hee," jawab Fani sambil nyengir dan mengusap perutnya.Bersambung.Akan lebih seru nanti, jangan lupa berlangganan dan ikuti.“อื้อ! ข้าก็รักท่านแม่ที่สุด!” อาเนี่ยนกอดตอบ แม้จะไม่เข้าใจทั้งหมด แต่เขาสัมผัสได้ถึงความรักอันมหาศาล“แอบมาร้องไห้อะไรกันสองแม่ลูก?”เว่ยอู๋จีเดินเข้ามาในห้องอาบน้ำ เขาเพิ่งกลับมาจากตรวจเวรยาม เห็นภาพภรรยากอดลูกร้องไห้ก็รีบถลันเข้ามา “ใครทำอะไรเจ้า? หรือเจ้าตัวแสบนี่แกล้งเจ้า!”“เปล่าเจ้าค่ะ...” กู้หว่านเงยหน้าขึ้น ส่งยิ้มที่งดงามที่สุดให้สามี “ข้าแค่... มีความสุขมากเหลือเกินเจ้าค่ะท่านพี่”เว่ยอู๋จีชะงัก เมื่อเห็นแววตาที่เปี่ยมสุขของนาง เขาก็ผ่อนคลายลง เดินเข้ามานั่งขอบถังน้ำแล้วโอบกอดทั้งสองคนไว้ในวงแขน“ข้าก็มีความสุข...” เขาจูบขมับภรรยา แล้วหันไปดีดหน้าผากลูกชายเบา ๆ “ถึงเจ้าลิงนี่จะแสบไปหน่อย แต่เขาก็คือของขวัญล้ำค่าที่สุดที่เจ้ามอบให้ข้า”“ท่านพ่อ... ข้าอยากกินขนม”“อาบน้ำให้เสร็จก่อนเถอะเจ้าตัวกินล้างผลาญ!”เสียงหัวเราะดังขึ้นอีกครั้งในห้องอาบน้ำ กู้หว่านมองดูสามีที่กำลังหยอกล้อกับบุตรชาย ภาพความเจ็บปวดในอดีตชาติค่อย ๆ เลือนหายไปจนหมดสิ้น เหลือไว้เพียงความอบอุ่นในปัจจุบันนางเคยคิดว่าชีวิตนี้คงต้องจมปลักอยู่กับความแค้น แต่เว่ยอู๋จีได้ฉุดนางขึ้นมา มอบแสงสว่าง และมอบครอบครัวที่
กาลเวลาผันผ่านราวกับสายน้ำไหล สี่ปีผ่านไปไวเหมือนโกหก เมืองหลวงแห่งแคว้นต้าเหลียงยังคงเจริญรุ่งเรืองและสงบสุข ภายใต้การปกครองของฮ่องเต้ผู้ปรีชาสามารถ และการดูแลความมั่นคงของแม่ทัพพิทักษ์แผ่นดินเว่ยอู๋จีทว่า... ความสงบสุขนั้นดูเหมือนจะไม่ครอบคลุมถึงภายในจวนแม่ทัพเว่ยสักเท่าไรนัก“เว่ย-ฉาง-เนี่ยน! เจ้าลิงทะโมน! ลงมาเดี๋ยวนี้เลยนะ!”เสียงคำรามกึกก้องของแม่ทัพเว่ยดังสนั่นไปทั่วลานฝึกยุทธ์ บ่าวไพร่ต่างพากันสะดุ้งโหยง แต่มิใช่ด้วยความหวาดกลัว กลับเป็นความขบขันที่ต้องกลั้นไว้จนหน้าแดงบนยอดไม้สูงลิบกลางลานฝึก มีร่างเล็กป้อมของเด็กชายวัยสามขวบกว่าในชุดไหมสีแดงสดนั่งห้อยขาแกว่งไปมาอย่างสบายอารมณ์ ในมือถือตราพยัคฆ์ตราสั่งการกองทัพของบิดาเอาไว้ราวกับของเล่น“ท่านพ่อ... ข้าไม่ลง! ท่านพ่อจะตีก้นข้า!” เสียงเล็กใสแจ๋วตะโกนตอบกลับมา“ข้าไม่ตี! ข้าสัญญา!” เว่ยอู๋จีพยายามปรับเสียงให้อ่อนลง แต่เส้นเลือดที่ขมับเต้นตุบ ๆ “เจ้าส่งตราพยัคฆ์ลงมาให้พ่อก่อน... นั่นไม่ใช่ของเล่นนะลูกรัก”“ท่านตาทวดบอกว่า ข้าเอาไปเล่นทุบเปลือกเกาลัดได้!”เว่ยอู๋จีแทบจะกระอักเลือดออกมา “ท่านตาทวด... ท่านราชครูกู้หยวนน่ะรึ?”“ใช่
“ไม่ต้อง...” เว่ยอู๋จีรวบตัวนางกลับลงมาจมอก “ที่จวนนี้ไม่มีธรรมเนียมยุ่งยาก ท่านพ่อท่านแม่ข้าไม่อยู่แล้ว... เจ้ามีหน้าที่ปรนนิบัติสามีเพียงคนเดียวก็พอ”“แต่ข้าหิว...” กู้หว่านประท้วงท้องร้องโครกคราก“ข้าก็หิว...” เว่ยอู๋จีลืมตาขึ้น นัยน์ตาเป็นประกายวาววับจ้องมองริมฝีปากนาง “หิวเจ้า...”“ว้าย! ท่านพี่! อื้ออออ!”ยังไม่ทันได้ร้องขอความเมตตา กู้หว่านก็ถูกพลิกตัวลงใต้ร่างเขาอีกครั้ง บทเรียนบทที่สองจากตำราวสันต์ถูกนำมาปฏิบัติทันทีโดยไม่มีการพักยกตลอดทั้งวัน บ่าวไพร่ที่ยกอาหารมารอหน้าห้องต่างมองหน้ากันเลิ่กลั่ก นายท่านสั่งห้ามใครรบกวนเด็ดขาด อาหารที่ยกมาวางไว้หน้าประตูเย็นชืดแล้วก็ถูกยกกลับไป เปลี่ยนสำรับใหม่วนเวียนอยู่อย่างนั้นเสียงหัวเราะคิกคัก เสียงหวีดร้องเบา ๆ และเสียงเตียงสั่นสะเทือนดังเล็ดลอดออกมาเป็นระยะ ทำให้สาวใช้หน้าแดงก่ำต้องรีบถอยห่างออกมากว่าจะได้กินข้าวกันจริง ๆ ก็ปาเข้าไปช่วงบ่ายคล้อย เว่ยอู๋จีสวมเพียงกางเกงตัวเดียว นั่งพิงหัวเตียงป้อนข้าวต้มให้ภรรยาที่นอนหมดสภาพอยู่ในผ้าห่ม“อ้าปากสิเด็กดี...” เขาเป่าข้าวต้มให้หายร้อน แล้วป้อนนางอย่างเอาใจกู้หว่านเคี้ยวข้าวแก้มตุ่ย มองค
ตำราปกสีน้ำเงินที่ถูกโยนทิ้งลงพื้นดูเหมือนจะไร้ค่าไปในทันที เมื่อเทียบกับเรือนร่างอรชรอ้อนแอ้นที่นอนทอดกายอยู่บนเตียงกว้าง ม่านมุ้งสีแดงมงคลถูกปลดลงมาปิดกั้นโลกภายนอก เหลือเพียงแสงเทียนวูบไหวที่สาดส่องกระทบผิวขาวเนียนละเอียดราวกับหยกมันแพะของกู้หว่านให้ดูเย้ายวนจับตาเว่ยอู๋จีปลดเปลื้องอาภรณ์ของตนออกอย่างรวดเร็ว เผยให้เห็นมัดกล้ามกำยำที่เต็มไปด้วยร่องรอยแห่งสมรภูมิ รอยแผลเป็นจาง ๆ บนแผงอกกว้างไม่ได้ทำให้เขาดูน่ากลัว แต่กลับเสริมเสน่ห์แห่งบุรุษเพศที่เปี่ยมไปด้วยพละกำลังและความดุดันเขาทาบทับร่างหนาลงมา กักขังนางไว้ใต้ร่างแกร่ง กลิ่นอายบุรุษเพศผสมกับกลิ่นสุรามงคลจาง ๆ มอมเมาสติของกู้หว่านให้พร่าเลือน“หว่านเอ๋อร์...” เสียงทุ้มแหบพร่ากระซิบชิดใบหู ลมหายใจร้อนผ่าวเป่ารดจนนางขนลุกซู่“รู้หรือไม่ว่า ข้าอดทนรอเวลานี้มานานเพียงใด... นานจนข้าแทบจะคลั่งตายอยู่แล้ว”“ท่านพี่... ท่านใจเย็น...อื้อ...ใจเย็นเจ้าค่ะ” กู้หว่านพยายามเอ่ยห้ามเสียงเบาหวิว มือเล็กดันแผงอกเขาไว้ แต่เรี่ยวแรงอันน้อยนิดหรือจะต้านทานพยัคฆ์หนุ่มผู้หิวกระหายได้“คืนนี้ไม่มีคำว่าใจเย็น...” เว่ยอู๋จีขบเม้มติ่งหูของนางเบา ๆ ก่อนจะ
แอ๊ด... บานหน้าต่างแง้มออกเพียงน้อยนิด เงาร่างสูงใหญ่สายหนึ่งพลิ้วกายเข้ามาในห้องประดุจวิญญาณภูตพราย ไร้เสียงฝีเท้า ไร้ร่องรอย เว่ยอู๋จีย่างสามขุมเข้ามาที่เตียงนอน มุมปากยกยิ้มพึงพอใจเมื่อเห็นเหยื่อตัวน้อยนอนไร้การป้องกันตัว เขาปลดเสื้อคลุมตัวนอกออกอย่างไม่รีบร้อน ก่อนจะแทรกกายเข้าไปในผ้าห่มผืนเดีย
สายลมเย็นยะเยือกพัดผ่านกอไผ่ ส่งเสียงเสียดสีราวกับเสียงหัวเราะเยาะหยันในโชคชะตา ที่ตายมาหนึ่งชาติก็ยังเหมือนไม่พ้นเคราะห์กรรมอยู่ดีเสิ่นหว่านยืนตัวแข็งทื่ออยู่หลังพุ่มไม้ สบตาเข้ากับนัยน์ตาพยัคฆ์คู่นั้นอย่างจัง แม้ระยะห่างระหว่างนางกับศาลาจะไกลพอสมควร แต่รังสีอำมหิตที่แผ่ออกมาจากร่างของบุรุษผู้นั้
เสิ่นถงสะบัดแขนเสื้ออย่างหงุดหงิด รับจดหมายมาอ่านผ่าน ๆ แล้วโยนลงบนโต๊ะ “ในเมื่อไปถือศีลก็แล้วไป... ส่งคนไปดูห่าง ๆ อย่าให้ใครไปรบกวนนาง โดยเฉพาะคนของตระกูลกู้ อย่าให้พวกเขารู้ว่าข้าเพิ่งจะโมโหเรื่องนี้... เข้าใจหรือไม่!”เสี่ยวหลัวลอบถอนหายใจอย่างโล่งอก โขกศีรษะรับคำ“เจ้าค่ะนายท่าน!”ลับหลังบ่าวร
ณ เรือนโถงหลักจวนตระกูลเสิ่น บรรยากาศตึงเครียดจนบ่าวรับใช้แทบกลั้นหายใจกับโทสะของผู้เป็นเจ้าของจวน‘เสิ่นถง’ เดินเอามือไพล่หลังวนไปวนมาด้วยความกระวนกระวายใจ ใบหน้าวัยกลางคนที่เริ่มมีริ้วรอยนั้นบิดเบี้ยวด้วยความโกรธเกรี้ยว ตั้งแต่กลับมาจากงานเลี้ยงที่จวนตระกูลหรงเมื่อคืน เขาก็ยังไม่ได้ข่มตานอนเลยแม้


















Ulasan-ulasan