Momo
Pada hari ulang tahunku yang ke-20, seperti biasa aku berteriak ke arah ruang tamu,
“Kak Peter, Kak John, Calvin, hari ini aku sudah berusia dua puluh tahun.”
“Kalian pernah bilang akan menemaniku merayakan setiap ulang tahunku.”
Namun, yang menjawabku tetaplah keheningan.
Di atas sofa, duduk tiga boneka kecil.
Kak Peter, Kak John dan juga Calvin, teman masa kecilku.
Mereka membuka mata, seperti di setiap malam yang telah berlalu, menemaniku dalam diam.
Barulah aku teringat.
Mereka sudah tidak menginginkanku lagi.
Saat berusia sepuluh tahun, aku didiagnosis mengidap penyakit ginjal.
Kak Peter membawa pulang Bella dari panti asuhan. Katanya, dia adalah adik yang cocok menjadi donor ginjalku dan datang untuk menyelamatkanku.
Namun, bahkan sebelum naik ke meja operasi, dia sudah lebih dulu menjadi kesayangan semua orang.
Setelah menjalani kemoterapi, aku tidak boleh makan pedas, tapi Kak Peter malah memasak makanan pedas setiap hari.
“Setelah ini Bella akan kehilangan satu ginjal. Memangnya kenapa kalau dia makan makanan yang disukainya?”
Saat Bella menyukai kalung yang kudapatkan sebagai hadiah menjadi orang dewasa, Kak John langsung melepaskannya dariku dan memberikannya padanya.
“Dia akan memberikan satu ginjal untukmu. Kamu memberikan satu kalung untuknya, bukankah itu wajar?”
Calvin pernah berjanji akan menemaniku kontrol, tetapi dia mengingkari janjinya demi menemani Bella menonton konser.
“Setelah ini belum tentu dia masih punya kesempatan. Kamu menahannya satu malam saja nggak akan mati.”
Bahkan operasi yang menyangkut nyawaku terus ditunda karena Bella ingin melihat laut, terjun payung, dan mengejar aurora.
Hanya karena aku pernah bilang takut tinggal sendirian di rumah besar dan ingin ikut bermain bersama mereka...
Dengan alasan semua ini demi kebaikanku, mereka malah mengirimku ke sebuah rumah kontrakan.
Pada malam pertama tinggal di sana, aku membuat tiga boneka kecil menyerupai mereka.
Mereka menemaniku makan, tidur dan mendengarkan setiap kali aku menceritakan rasa sakit yang kurasakan.
Hingga hari ini, aku menghabiskan seluruh tabunganku untuk membeli sebuah mobil bekas.
Aku ingin pergi melihat Danau Ladi, tempat yang dulu pernah kami sepakati untuk dikunjungi bersama.
Lalu setelah itu... aku tak akan pernah menoleh ke belakang lagi.