Fana
Anindya Indraswari dikenal sebagai putri bangsawan terpandang di Kota Kana. Kemampuannya dalam bermain musik, catur, kaligrafi, melukis, menyulam, hingga tata krama tak tertandingi. Tutur katanya selalu lembut, langkahnya anggun tanpa membuat ujung roknya berkibar. Tak heran, banyak putri bangsawan di ibu kota menjadikannya panutan.
Namun, pria yang dinikahinya justru Sakha Ranjaya, seorang jenderal yang gagah perkasa di medan perang, tetapi sama sekali tidak mengenal kelembutan terhadap wanita.
Pada malam pertama mereka, Sakha sampai menyuruh orang membawakan air belasan kali hingga Anindya tak sanggup lagi turun dari ranjang. Selama tiga tahun berikutnya, sikapnya justru semakin menjadi-jadi.
Di ruang kerja, kandang kuda, ruang tamu, bahkan aula leluhur, Sakha melampiaskan hasratnya di berbagai tempat dan dengan berbagai cara hingga tubuh Anindya terasa remuk. Kalimat yang paling sering didengarnya bukanlah, “Istriku, aku akan menyayangimu,” melainkan, “Kenapa kau begitu liar?”
“Sampai segitunya, memangnya sudah berapa lama kau tidak disentuh laki-laki?”
Setiap kali, Anindya hanya bisa bertahan dalam diam, menggigit bibir agar isak tangisnya tertahan dan air matanya tak jatuh.
Dia selalu berusaha memaklumi suaminya. Sakha adalah seorang jenderal yang bertahun-tahun bertempur di perbatasan. Wajar jika dia tidak terbiasa menunjukkan kelembutan dan perhatian kecil. Mungkin, kata-kata kasarnya itu hanyalah caranya mengungkapkan perasaan, meski terdengar jauh lebih kasar.
Sampai pada hari itu, Sakha pulang membawa kemenangan dari medan perang di perbatasan. Bahkan sebelum sempat melepas baju zirahnya, dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk membawa Anindya ke perjamuan kemenangan.
Di tengah aula yang dipenuhi tamu, diiringi denting cawan dan riuh percakapan, Sakha duduk dengan gagah di kursi utama. Tiba-tiba, dia menarik Anindya ke pangkuannya, menyibak ujung roknya, lalu menjamahnya.