Novels
Short Stories

Genres

Realistis×
All
Romansa
Realistis
Manusia Serigala
Mafia
Vampir
Mitologi
Fantasi
Kehidupan Sekolah
Imajinasi
Reinkarnasi
Romansa Menggoda
Misteri/Thriller
Mistis Rakyat
Romansa Sejarah
POV Pria

Characters

27
Mandiri×
All
Psikopat
Mandiri
Pelakor
Munafik
Wanita Kuat
Mafia
Istri Muda
Cinta Pertama
Kejam
Teman Masa Kecil
Dokter
Cinta Sejati
Pengasuh
Bestie
Pengganti
Guru
Bucin
Menantu
Sekretaris
Identitas Tersembunyi
Tetangga
Influencer
Vampir
Ahli Forensik
Pilot
Selebriti
Teman Sekamar
Show more

Plot & Setting

27
All
Dewasa 18+
Menggoda
Penyesalan
Pernikahan
Selingkuh
Karma
Hubungan Keluarga
Balas Dendam
Kesadaran Diri
Pura-pura Mati
Kriminal
Dunia Kerja
Sistem
Perundungan
Kehamilan
Penebusan
Nikah Kontrak
One Night Stand
Cinta Lama Bersemi Kembali
Kekuatan Super
Melawan Takdir
Kutukan
Dunia Hiburan
Petualangan
Dunia Paralel
Perjalanan Waktu
Pusat Perhatian
Show more

Themes

15
Plot Twist×
All
Plot Twist
Drama
Cerita Enak
Reinkarnasi
Bangkit
Manis
Obsesi
Toxic
Healing
Cinta Terpendam
Motivasi
Pusing
Kocak
Multi POV
Semangat
Show more

Plot Twist Realistis Short Stories & Mandiri Novels

Discover a collection of engaging Plot Twist Realistis short stories featuring Mandiri, with compelling plots and immersive storytelling. Perfect for readers seeking one-hour short stories and quick, immersive reads online.
Gadis yang Terabaikan, Dunia Baru Menantimu - Realistis novels & stories
Nini
Saat pengisian pilihan perguruan tinggi, semua orang mengerubungi adik kembarku sambil sibuk memberikan saran. Kakakku menunjuk kode universitas di urutan paling atas. “Sudah pasti pilih Universitas Orlena. Jadi adik tingkatku. Nanti Abang yang jagain kamu.” Sahabat masa kecil kami segera menyodorkan brosur Universitas Marion ke hadapannya. “Jangan dengarkan abangmu. Masuk Universitas Marion saja. Empat tahun lagi kita bisa jadi teman sekampus.” Ayah dan ibu tersenyum sambil mengangguk setuju. “Belajar di ibu kota memang lebih baik. Ada yang menjagamu, jadi kami juga tenang.” Baru setelah cukup lama, mereka teringat kalau aku juga baru saja menyelesaikan ujian masuk perguruan tinggi. “Nindi… nilaimu kurang bagus, ‘kan? Pilih saja universitas mana pun yang ada di Marion.” “Iya. Nanti kita berempat ada di kota yang sama. Akhir pekan jadi gampang kumpulnya,” sahut kakak tanpa mengangkat kepala. Sahabat masa kecilku pun mulai mengomel seperti biasa. “Tinggal setengah jam lagi batas pengisian pilihan ditutup. Jangan ceroboh lagi seperti biasanya.” Sedikit demi sedikit, genggamanku pada buku panduan pendaftaran itu semakin mengencang.
Dia Menuduhku, Aku Membongkar Delapan Pria di Baliknya! - Realistis novels & stories
Makjos
Rekan kerja wanitaku berdiri di samping meja kerjaku sambil memegangi perut bagian bawahnya. Dia berbicara dengan suara pelan, “Valen, ada beberapa kardus dokumen di gudang. Bisa temani aku memindahkannya?” Di kehidupanku sebelumnya, aku luluh dan menemaninya ke gudang. Setengah jam kemudian, dia ditemukan tergeletak di tangga darurat. Darahnya bahkan menggenangi hampir separuh lantai. Saat sadar, dia menangis sambil menunjuk ke arahku, “Valen yang memaksaku mengangkat kardus-kardus itu! Dia juga mendorongku!” Aku dipecat, dituntut, dan kehilangan seluruh harta bendaku untuk membayar ganti rugi. Ayahku meninggal, ibuku kehilangan kewarasannya, dan pada akhirnya aku berdiri di atap gedung perusahaan …. Baru setelah mati, aku mengetahui bahwa dia ternyata menjalin hubungan dengan 8 pria sekaligus. Kandungannya memang sudah tidak bisa dipertahankan akibat keguguran yang berulang kali dialaminya. Kali ini, aku tetap duduk di kursiku tanpa bergerak sedikit pun. “Kamu sedang hamil, tidak boleh mengangkat barang berat.” Aku mengambil ponsel dan membuka grup besar departemen kami. “Biar kupanggilkan orang untuk membantumu.” Aku mengetik pesan …. [Sella sedang hamil. Untuk mengambil dokumen di gudang, dia perlu didampingi rekan kerja pria dan harus menggunakan lift sepanjang perjalanan.] Lalu, kutekan tombol kirim. Seketika, seluruh kantor menjadi hening. Wajah Sella langsung menegang. Kepala bagian administrasi membalas di grup. [Siap.] Tidak lama kemudian, staf HR ikut menanggapi. [Saya akan memastikan kembali prosedur keselamatan kerja bagi karyawan yang sedang hamil.] Sella membuka mulutnya lalu berkata dengan ragu, “Tidak perlu memanggil orang sebanyak itu.” Aku menatapnya, “Kamu sedang hamil. Tidak aman jika pergi sendirian.” Di kehidupanku sebelumnya, dia membawaku melewati tangga darurat yang tidak dilengkapi CCTV. Namun kali ini, aku akan memastikannya melewati jalan yang disaksikan banyak orang.
Antara Cinta dan Keluarga - Realistis novels & stories
Ellie Felicia
Kakak sepupu pacarku baru saja bercerai dan tinggal sementara di rumah pacarku. Dia sedang hamil besar dan membawa serta anaknya yang berusia 5 tahun. Dengan sikap seolah-olah semuanya sudah menjadi haknya, dia menganggap pacarku sebagai sandaran hidupnya dan menunjukkan ketidaksukaannya padaku. Dia merasa bahwa aku telah "merebut" adik sepupunya. Suatu hari saat acara keluarga, putranya tiba-tiba menyiramkan minuman ke arahku dan berseru, "Kamu nggak boleh merebut ayahku!"
Anak Magang Penghasut Presdir Perusahaan - Realistis novels & stories
Echo
Selama tiga tahun, aku menggunakan koneksi keluargaku untuk menghasilkan ratusan miliar pendapatan bagi perusahaan. Namun di rapat kuartalan, seorang magang baru berdiri di depan semua orang, menampilkan laporan kehadiran dan pengeluaranku, lalu menuduhku "absen tanpa alasan" dan "menghamburkan dana perusahaan". "Klub-klub mewah ini, restoran-restoran ini ...," katanya dengan suara penuh pembenaran diri. "Setiap kali dia menghabiskan ratusan juta! Ini semua pengeluaran yang sama sekali nggak perlu." "Aku sangat menyarankan Pak Presdir untuk segera memecatnya dan menyelamatkan arus kas perusahaan." Aku melirik Kevin, sang presdir. Teman sekelasku dulu. Dia tahu persis berapa banyak pendapatan yang dihasilkan dari setiap pertemuan itu. Dia juga tahu bahwa saat aku tidak berada di kantor, berarti aku sedang berada di bar, untuk bernegosiasi dengan investor, kadang minum sampai perutku terasa mual. Namun, dia hanya menatapku dengan dingin. "Karina, apa penjelasanmu tentang absensi dan pengeluaran yang disampaikan Lia?" Aku tersenyum. "Aku nggak punya apa pun untuk dijelaskan." Mereka semua akan segera tahu konsekuensi dari aksi kecil ini.
Sebelum Hari Raya, Keluargaku Menjahiliku Habis-habisan - Realistis novels & stories
Junye
Sebelum jam pulang kerja di Hari Raya, adikku mengirimkan pemberitahuan pindah rumah di grup keluarga. Setelah aku mengikuti alamat itu dan berganti bus lima kali, yang ada di depanku hanya pegunungan dan hutan belantara. Di telepon, adikku berbicara dengan nada yang sangat puas. "Berhasil! Ngerjain dia, sukses! Bus terakhir sudah jalan, lihat saja kamu mau gimana!" Aku membatu di tempat, sementara orang tuaku tertawa terbahak-bahak. "Kata-kata begitu saja, dia percaya. Nurun dari siapa sifat bodohnya itu?" "Kami mau makan malam keluarga. Kamu pulang sendiri, jalan kaki saja." Setelah itu, ayah ibuku malah berdebat sifatku lebih mirip siapa di telepon. Saat merasa putus asa, aku menggunakan sisa baterai terakhir ponselku untuk menelepon pacarku. Saat telepon terhubung, suara latar yang familier terdengar lagi. Tawa pacarku terdengar santai, diiringi nada ejekan dia berkata, "Vinka, tadi Tante sama Paman sudah bilang, kamu pulang sendiri saja." "Ini ‘kan bukan pertama kalinya kamu dikerjain, jangan baper!" Telepon pun dimatikan dengan kejam. Kalau dulu, aku pasti akan menangis sambil menelepon balik, memohon agar mereka menjemputku. Tapi kali ini, melihat ribuan lampu rumah di kejauhan, aku mendadak merasa lelah. Adikku suka permainan prank saat Hari Raya, dan keluargaku ikut bermain dengannya. Dua tahun lalu, dia memasukkan bulu buah rambutan ke dalam gelasku hingga asmaku kumat. Tahun lalu, dia mengganti sampoku dengan krim pembersih bulu, hingga aku gagal wawancara kerja. Tahun ini ... keluargaku jelas-jelas tahu kalau aku takut gelap. Tapi mereka malah bekerja sama membohongiku, hingga aku sampai ke pinggiran kota. Sementara mereka di meja makan, bertaruh berapa menit lagi aku akan memohon mereka. Aku tidak menangis atau mengamuk. Di dalam kegelapan, aku melangkah menuju arah yang berlawanan dari rumah. Permainan ini, aku nyatakan selesai secara sepihak.
Ketika Nisan Tak Lagi Menyimpan Maaf - Realistis novels & stories
Lucky Cat
Pada tahun keenam setelah adik laki-laki dan tunanganku meninggal, aku juga memilih sebuah makam untuk diriku sendiri. Sebelum pergi berziarah ke makam mereka untuk terakhir kalinya, ibu tiba-tiba berkata, "Alex, tahun ini nggak usah pergi. Sebenarnya mereka nggak mati." Aku terpaku. Tepat saat itu, kulihat mereka berdua berjalan keluar dari kamar adikku. Kenzo Ganendra menyunggingkan senyum sambil menggoda orang di sampingnya. "Aku menang taruhan. Sudah kubilang, kakak nggak bakal pernah sadar." "Kelak siapa yang di atas? Hm? Mila?" Begitu kata-kata itu selesai diucapkan, perempuan yang dulu bahkan akan menangis setiap kali melihatku diperlakukan sedikit tidak adil itu, kini menatapku dengan penuh jijik. "Ah, dia memang terlalu bodoh. Padahal kita tinggal di rumah sebelah, tapi dia sama sekali nggak sadar." Rupanya alasan ibu melarangku masuk ke kamar itu bukan karena khawatir aku akan bersedih jika melihatnya, melainkan karena kamar tersebut terhubung dengan rumah di sebelah. Aku memang terlalu bodoh. Bahkan sebulan sebelum kematianku, yang kupikirkan masih bagaimana caranya berziarah ke makam mereka.
Pilihan Terakhir: Cerai - Realistis novels & stories
Sasri Tasmirah
Adik iparku, Gina, bersikeras ingin berlibur ke Pantai Nirwana saat Natal, jadi aku memutuskan untuk mengajak seluruh keluarga pergi berlibur bersama. Namun, saat teman wanita suamiku mengetahui tentang rencana tersebut, dia memaksa untuk ikut dan membawa anaknya juga. Tanpa basa-basi, suamiku langsung membeli tiket pesawat. Namun, dia malah menyuruhku membawa barang-barang dan mengemudi sendiri ke sana. Semula, aku mengira seluruh keluarga akan mendukungku, tetapi ternyata mereka semua mendukung keputusan suamiku. Baiklah. Kalau begitu, kita urus urusan masing-masing saja. Namun, mereka semua menjadi ketakutan.
Demi Selingkuh, Suamiku Meracuni Anakku - Realistis novels & stories
Aaliyah Zoya
Demi berkencan dengan asisten di malam natal, suamiku mencampurkan obat tidur ke dalam susu anak kami. Ketika aku mengantar anakku yang demam tinggi ke rumah sakit, aku malah melihat suamiku sedang menggendong asistennya ke lantai atas. "Kaki Nelly terkilir, aku menemaninya berobat." Anaknya jelas-jelas berada di ruang gawat darurat, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Aku mencengkeram tiket lotre yang ada di sakuku. Sudah saatnya aku mengakhiri pernikahan selama tujuh tahun ini.
Para Penyewa yang Akhirnya Menangis - Realistis novels & stories
Roro
Aku mengubah gedung warisan keluarga menjadi apartemen bersama. Lokasinya berada di pusat kota, terdiri dari 5 lantai dan lengkap dengan sebuah halaman yang luas. Aku membongkar semua dinding yang bukan penyangga, lalu menata ulang seluruh ruangannya. Ada kamar untuk 1 orang, 2 orang, hingga 4 orang untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Biaya sewanya hanya setengah harga dari pasaran sekitar. Aku hanya menerima penyewa muda yang baru lulus dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Halamannya tidak kubangun menjadi gedung tambahan. Sebagai gantinya, aku membuat pusat kebugaran dan kantin. Semua peralatan di pusat kebugaran masih baru. Untuk kantin, aku mempekerjakan 2 orang koki dengan harga makanan yang sama seperti di kantin kampus. Pada bulan pertama setelah pindah, makanan di kantinnya gratis. Awalnya, aku mengira sedang melakukan sesuatu yang baik. Memberikan ruang untuk bernapas, sekaligus sebuah rumah bagi para anak muda yang baru saja melangkah ke dunia kerja. Mereka memanggilku “pemilik apartemen idaman” dan memberiku plakat penghargaan, bahkan menulis surat ucapan terima kasih di internet. Melihat wajah-wajah muda itu, aku merasa semua yang kulakukan memang sepadan. Sampai akhirnya Fendy muncul. Dia berdiri di depan apartemen sambil menyeret koper berwarna silver dan membetulkan kacamata berbingkai emas di pangkal hidungnya, lalu mengamati karakter yang tertulis di sana, yaitu “Rumah Tetangga Harmonis.” Kemudian, dia tersenyum.
Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku - Realistis novels & stories
Kelby
Tahun ini, sebagai ahli bedah saraf paling terkemuka di negara ini, aku ditugaskan untuk melakukan operasi darurat di provinsi lain. Dua puluh tahun yang lalu, aku pernah datang ke ruang operasi ini. Ibuku mengalami pendarahan otak, dan dokter bedah yang memimpin operasi itu meleset setengah sentimeter saat melakukan sayatan. Ibuku meninggal, dan yang menghiburku hingga bisa melewati masa sulit itu adalah Reihan Abimana, cinta pertamaku. Baru kemudian aku tahu, dokter bedah yang memimpin operasi itu adalah ayahnya, Kepala Departemen Bedah Saraf terkenal di rumah sakit itu. Namun, yang sebenarnya melakukan operasi adalah Reihan sendiri, seorang dokter magang. Dia dan Mona sudah merencanakan semuanya sejak lama, menggunakan operasi ibuku sebagai latihan untuk membuka jalan bagi karier mereka. Setelah kejadian itu, Mona Hartanto dengan statusnya sebagai putri direktur rumah sakit, berhasil menutupi seluruh insiden tersebut. Sejak hari itu, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan program pascasarjana secara langsung. Aku masuk lagi dari awal kuliah kedokteran dan menempuh pendidikan dari sarjana hingga pascadoktoral. Aku menghabiskan 20 tahun penuh untuk mengubah diri menjadi orang yang "tidak akan pernah membuat kesalahan lagi". Hanya berharap suatu hari nanti, tragedi yang menimpa ibuku tidak akan pernah terulang. Hari ini, asistenku memberikan informasi pasien kepadaku: tumor batang otak, stadium lanjut, risiko sangat tinggi. Wajah itu sudah jauh lebih tua, tetapi aku langsung mengenalinya. Aku mengembalikan berkas itu kepada asistenku, lalu melepas jas dokterku. "Aku nggak bisa melakukan operasi ini."
Perangkapan Suami - Realistis novels & stories
Prameswari
Aku Miranda Sasmi, seorang ibu rumah tangga berusia tiga puluh tahun. Pernikahanku yang dulu hangat perlahan berubah dingin. Suamiku, David, sering pulang larut, menjaga ponselnya dengan berlebihan, dan menjauh setiap kali aku ingin berbicara serius.
Porsi Cinta yang Berbeda - Realistis novels & stories
Momo
Menjelang liburan, sebuah pengumuman hadiah tiba-tiba menjadi viral di situs kampus. [Hadiah satu juta! Butuh rencana perjalanan selama tujuh hari dengan anggaran 40 juta.] Pengunggah juga menambahkan: [Nggak perlu terlalu menghemat bujet. Kalau nggak, nanti orang tuaku, kakak laki-lakiku, dan teman masa kecilku akan mengira aku nggak bersenang-senang.] Ada orang bertanya mengapa keempat orang itu bisa kompak mengatur perjalanannya. Dia mengunggah empat tangkapan layar transfer bank: [Karena mereka nggak saling beri tahu sebelumnya, masing-masing dari mereka memberiku 10 juta.] Kolom komentar seketika dipenuhi dengan rasa iri. Aku menatap foto profil yang familier itu, dan langsung mengenalinya sebagai adik perempuanku. Yang lebih kebetulan lagi, satu juta yang dia tawarkan sebagai hadiah untuk panduan rencana perjalanan tersebut. Adalah gaji kerja paruh waktuku yang dijanjikan oleh pemilik toko serba selama liburan. Aku tertawa getir. Keluarga kami selalu menerapkan apa yang dikenal sebagai 'sistem pembagian tugas' dalam rumah tangga. Orang tuaku, kakak laki-lakiku, dan teman masa kecilku—empat orang itu dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertanggung jawab atas biaya hidup dan kartu kredit tambahan adik perempuanku, dan kelompok yang satunya lagi bertanggung jawab atas diriku. Dengan begitu, semuanya akan adil, dan tidak akan ada yang terkucilkan.
Menjadi Tumbal demi Adikku - Realistis novels & stories
Wanto
Di kota kecil tempat aku tinggal, ada satu aturan lama. Jika sebuah keluarga memiliki anak kembar, salah satunya harus dijadikan tumbal. Dia dikorbankan sebagai sasaran hukuman, agar saudara kembarnya belajar dari kesalahan dan keduanya bisa tumbuh dengan selamat. Aku lahir empat menit lebih dulu daripada adikku. Karena itu, akulah yang ditakdirkan menjadi tumbal. Suatu ketika, adikku diam-diam pergi berenang di sungai. Ibu sama sekali tidak memarahinya. Sebaliknya, dia menekan kepalaku ke dalam air berkali-kali. Baru setelah adikku ketakutan dan menangis sambil berteriak, "Aku nggak akan pergi ke sungai lagi!" Ibu melepaskan tangannya. Suatu hari, adikku lupa menekan tombol setelah memasukkan beras. Ketika Ibu pulang kerja, beras di dalamnya masih mentah. Ibu meletakkan dua mangkuk berisi beras mentah di hadapanku. "Habisin. Nggak boleh ada sisa sebutir pun." Beras mentah itu membuat mulutku berdarah setiap kali kukunyah. Namun, sepanjang waktu, Ibu justru mengamati ekspresi adikku. Baru setelah adikku menangis, dia tampak puas dan mengambil kembali mangkuk itu. Selama enam belas tahun, aku menjadi "tumbal" dalam keluarga ini. Sampai akhirnya, pada tahun itu, peringatan bencana topan dikeluarkan dan seluruh kota kecil kami harus mengungsi semalaman. Namun, adikku baru pulang menjelang dini hari setelah bermain gila-gilaan bersama teman-temannya. Tubuhnya basah kuyup, tetapi dia masih saja cengar-cengir.
Tak Lagi Punya Tempat Pulang - Realistis novels & stories
Lapis Ketan
Kakak sepupu, Irene Candra, menggunakan komputerku dan lupa keluar dari WhatsApp. Aku membantu mengeluarkan akun WhatsApp-nya. Sebuah pesan grup muncul di layar. [Demi merayakan nilai ujian Felix yang makin meningkat, malam ini kita makan malam sekeluarga.] Aku penasaran dan membuka pesan di grup itu. Di grup itu ada empat orang. Ayah, Ibu, adikku Felix, dan Irene. Felix membalas, [Cuma kita berempat, Clara nggak diajak?] [Siapa suruh dia terlalu pelit, nggak mau berbagi apel dengan kakak sepupunya sendiri.] Aku tertegun, ternyata sudah lama aku dianggap orang luar di keluarga ini.
Gapai Mimpi di Usia Senja - Realistis novels & stories
Jihan Umnia
Hari itu adalah perayaan ulang tahun Ryan ke-70 tahun. Aku baru pulang dari stasiun kereta api di tengah hujan lebat. Sesampainya di depan pintu rumah, aku menemukan pintu rumah terkunci. Ketika mendengar suaraku, tetangga seberang rumah berkata dengan ekspresi bingung, "Tante Elita, kenapa Tante pulang? Om Ryan hari ini menikah, dia dan istrinya sekarang masih menginap di hotel!" Aku tertegun. 'Menikah?' Aku cerai dengan Ryan sebulan lalu. Namun, Ryan memberitahuku bahwa sahamnya rugi banyak dan memiliki utang. Agar tidak memengaruhiku, dia menceraikanku tanpa pisah rumah. Dengan dalih menghindari penagih utang, putraku mengantarku ke rumah lama dan memintaku tinggal di sana selama satu bulan. Ternyata sekarang Ryan sudah menikah lagi?
Rahasia di Balik Balai Leluhur - Realistis novels & stories
Jiso
Desa kami memiliki sebuah tradisi. Setiap perempuan yang hendak menikah harus membawa pacarnya ke Balai Leluhur untuk bersembahyang. Jika mereka bisa keluar dari sana dengan selamat tanpa terjadi apa pun, itu berarti keduanya ditakdirkan hidup bahagia bersama seumur hidup. Kedua adik perempuanku menikah saat berusia dua puluh tahun. Sementara aku, kini sudah berusia tiga puluh tahun dan masih belum menikah. Bukan karena aku tidak pernah punya pacar. Masalahnya, setiap pria yang kubawa masuk ke Balai Leluhur selalu memutuskanku begitu keluar dari sana. Bahkan, ada yang sampai ingin membunuhku. Pacar baruku, Jeff Gunara tidak percaya pada takhayul desa kami. Karena itu, dia bersikeras ingin masuk ke Balai Leluhur. Namun, setelah Ayah, yang juga merupakan kepala desa, membawanya masuk, dia langsung berubah begitu keluar dari sana. Dia menindihku ke tanah dan berusaha mencekikku sampai mati. Aku tidak mengerti. Apa sebenarnya yang ada di dalam Balai Leluhur itu sampai mereka bisa berubah sedrastis itu? Ayah jelas tahu apa yang akan terjadi pada mereka setelah masuk ke sana. Kalau begitu, kenapa dia tetap bersikeras membawa mereka masuk?
Kakakku Membuangku Demi Adik Palsunya - Realistis novels & stories
Gaston
Di kehidupan sebelumnya, aku dibawa kembali ke Keluarga Shafron. Demi seorang putri angkat, kakak kandungku memfitnahku, menuduhku membuat penyakitnya kambuh. Orang tua kandungku percaya dan mengusirku dari rumah. Tak lama kemudian, aku mati karena sakit di pinggar jalan. Saat terbangun lagi, aku kembali ke hari di mana diriku dijemput oleh Keluarga Shafron. Michael menghalangi jalan orang tua, menunjukku dan berkata, “Ayah, Ibu, dia bukan adikku!” Pasangan suami istri itu menatapku dengan rasa kecewa, lalu berbalik dan pergi. Aku berdiri di tempat, tak mengeluarkan liontin giok yang bisa membuktikan identitasku, lalu diam-diam berjalan kembali ke panti asuhan. Dua puluh tahun kemudian, aku telah menjadi salah satu ahli penyakit dalam terkemuka di dalam negeri. Pria yang duduk di hadapanku menyodorkan rekam medis dengan suara gemetar, “Dokter, kumohon tolong selamatkan adikku.” Saat melihat nama di berkas itu, gerakanku pun terhenti. Pandanganku tertuju pada wajah yang tampak lesu dan kusam itu. Setelah menatapnya agak lama, barulah aku berpaling ke arah pria itu dan berkata, “Aku nggak menerima pasien ini.”
Cucu Perempuan Tertua yang Membisu - Realistis novels & stories
Rumput
Aku baru bisa berbicara saat aku berusia delapan tahun. Semua anggota Keluarga Sebastian menganggapku idiot. Bahkan, ibuku diam-diam menyeka air matanya karena mengira telah melahirkan seorang anak perempuan yang mengalami autisme. Ayahku memandangku dengan tatapan penuh rasa kecewa. Namun, demi menjaga reputasi, dia tidak mengirimku ke sekolah luar biasa. Saat itu, ada tokoh dari Wall Street datang untuk mengakuisisi Grup Sebastian milik keluarga kami. Mereka begitu arogan, bahkan memaki semua orang di ruang rapat hingga tidak ada satu pun yang berani mengangkat kepala. Semua elite di ruangan itu terdiam ketakutan, bahkan tidak ada satu pun berani membantah. Aku hanya berdiri di sudut, mendengarkan semua itu sampai merasa mengantuk. Aku akhirnya merasa kesal. Aku berjalan maju selangkah, mengucapkan kalimat pertama dalam hidupku dengan bahasa ibu pria itu.
Menghadapi Kematian di Depan Mata - Realistis novels & stories
Eriana
Aku mengalami kram menstruasi dan memesan obat pereda nyeri. Di aplikasi, pengantarnya tertulis seorang pengendara wanita, tapi yang datang ternyata seorang pria mabuk. Kali ini, aku tidak menelepon dua kakakku untuk meminta bantuan. Langsung saja aku melapor ke polisi. Di kehidupan sebelumnya, kedua kakakku bukan hanya memanggil semua pengawal pribadi yang ada, tetapi mereka sendiri juga buru-buru kembali. Akibatnya, mereka melewatkan drama panggung yang dimainkan oleh adik angkat mereka. Adik angkat mereka begitu sedih hingga dia menusukkan tombak mainan ke dirinya sendiri di atas panggung dan membuat dirinya terluka parah. Kedua kakakku mencoba menghiburku, "Jangan merasa bersalah. Setidaknya kamu tetap selamat." Namun, di balik itu, mereka mengikatku dan menyerahkanku kepada sekelompok pria mabuk. "Cuma pria mabuk, 'kan? Kamu bisa mengusirnya sendiri. Kenapa harus manggil kami? Sekarang lihat akibatnya. Kalau Hilda meninggal, kamu juga jangan berharap bisa hidup!" Ketika aku membuka mata lagi, aku kembali ke hari di mana pria mabuk itu mengetuk pintuku. Kali ini, aku tidak menelepon mereka. Mereka akhirnya bisa menyaksikan drama panggung adik angkat mereka, memberi dukungan dan semangat. Namun, setelah drama itu selesai, mereka malah menyesal.
Lima Kursi untuk Mereka, Satu Tiket Pergi untukku - Realistis novels & stories
Burgundy
Acara makan bersama untuk merayakan hari kemerdekaan diadakan di rumah kontrakanku. Tiga teman masa kecilku hanya membeli minuman dan camilan, sementara Verren bilang dia tidak bisa memasak. Ada 12 hidangan yang harus kusiapkan. Aku sudah sibuk sejak pukul enam pagi sampai sore. Baru saja semua hidangan tersaji di meja, Verren tiba-tiba menerima telepon dari teman sekamarnya. "Dia nggak punya tempat untuk merayakan liburan. Aku boleh ajak dia nggak?" Aku memandang meja makan kecil yang hanya cukup untuk lima orang. Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Casper sudah menarik kursiku. "Bukannya kamu bilang mungkin ada urusan di kantor? Kebetulan, kamu bisa pergi sekarang." Juan, teman masa kecilku yang lain, ikut tersenyum. "Lagian kamu juga makan masakanmu sendiri setiap hari. Nggak masalah kalau sesekali nggak ikut makan." Verren buru-buru melambaikan tangan dan berkata, "Kalau begitu, sudahlah. Biar dia pesan makanan sendiri saja." Ketiganya langsung membujuk Verren. "Dia sudah sampai di bawah. Mana mungkin kita mengusir tamu yang sudah datang?" Pacarku, Terry, memasukkan beberapa lauk yang sudah dingin ke dalam kotak makan hingga setengah penuh. "Ini kusisakan untukmu. Kalau nanti malam lapar, tinggal dipanaskan." "Jangan pasang muka begitu. Orang yang nggak tahu bisa mengira kami bertiga sengaja bersekongkol merundungmu." Aku menatap mereka yang duduk mengelilingi meja makan yang kubeli, menggunakan piring dan peralatan makan yang baru saja kuganti. Ternyata mereka juga tahu bahwa tamu tidak seharusnya diusir. Mereka hanya lupa bahwa akulah pemilik rumah ini. Aku melepaskan kunci rumah dari gantungan kunci milik Terry, lalu berkata, "Malam ini nggak perlu datang lagi." Ini rumahku. Kalaupun ada yang harus diminta pergi, seharusnya bukan aku.
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status