Dia Ibumu Bukan Pembantumu
Dia melepaskan pelukanku, mengajakku duduk setelah dia menyodorkan sesuatu kepadaku.
'Hah? Kok, kuncinya ada sama dia sih? Perasaan aku tadi pegang,' pikirku.
"Kenapa? Kamu puyeng kuncinya kenapa bisa ada di aku?"
Aku mengangguk.
"Ya ada dua lah, Yang. Kamu pegang yang asli, aku yang duplikatnya."
"Benarkah?"
Kuraih saku rokku untuk mengambil kunci yang serupa, memastikan kalau kunci tersebut memang ada dua.