Bilur Bulir Bertaut
Waktu terasa mengalir lambat, nyaman, seperti mobil itu terparkir di luar hitungan dunia.
Di balik ketenangannya, Mareeq menghitung detik dengan sabar. Beberapa menit menjelang tengah malam, ia menurunkan volume musik. Suasana menjadi lebih hening, hanya tersisa desir angin di luar dan suara napas mereka yang seirama. Naomi menoleh, sedikit heran.
“Kenapa dimatikan?” tanyanya.
Mareeq tersenyum tipis, tatapannya jatuh pada jam di dashboard menunjukkan pukul 23:59. “Tunggu sebentar,” katanya pelan.
Hot Chapters