Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Saat berbicara dengan Bradford, Abaddha pun tidak lagi setegang sebelumnya. "Teman lama, genius, usia 20-an ...." Abaddha bergumam sendiri. Dia samar-samar merasa pernah mendengar deskripsi seperti ini. "Kamu genius luar biasa yang langsung bisa mengerahkan Telapak 18 Buddha Pelindung itu?"
10275.0K viewsCompletedAdded to Library 10.4K Times as abad 22
Read
+Library
Sadena

Sadena

"Yoi elah, abang gue udah jadi bucin, An. Hahaha." Sadena memilih diam dan menulikan telinga, ia berjalan melewati dua orang itu namun Sadava memanggilnya membuat Sadena mendengus lalu menoleh. "Bang." "Apa?" Sebentar, tatapan Sadava terfokus pada perut Sadena lalu turun ke bagian bawah kembarannya itu. "Lo seksi banget." Sadena mengikuti tatapan Sadava, sial! Miliknya nyaris tercetak jelas karena boxernya basah. "Sialan!"
1011.9K viewsCompletedAdded to Library 356 Times as abad 22
Read
+Library
Adinda

Adinda

“TIGAA BELASSSS!!!” Terdengar teriakan dari sebelah sisi lapangan tempat Adinda menyaksikan pertandingan. Sontak suara tersebut, membuat Adinda langsung mencari sumber suara. Tampak di sana seorang gadis belia. Dengan usia kisaran belasan tahun, melompat-lompat kecil memberikan semangat pada Giyo. “’Noh kamu lihat sendiri bagaimana pesona pacarmu membahana,” goda Amanda sambil tertawa kecil.
1018.2K viewsOngoingAdded to Library 510 Times as abad 22
Show Reviews (41)
Read
+Library
Adiarizki
Terima kasih banyak juga untuk Rea yang sudah berkenan mengirimkan Permatanya, hingga detik ini Autoa sendiri masih belum percaya. REA begitu solid dalam memberikan Autoa semangat untuk selalu maju, dan belajar.
Kejora Bersinar
Terima kasih sudah menghadirkan cerita yang berbeda, Toa.🙏💗💗 Kalau selama ini aku baca kisah CEO/Molioner. Orang kayalah inti nya, talernyata sama Autoa kehidupan sederhana jadi cerita yang menarik dan enak dibaca.❤❤❤🤗
Read All Reviews
MENANTU AMBURADUL

MENANTU AMBURADUL

MENANTU AMBURADUL 147 Jam dinding menunjukkan pukul 22.30 Wib. Malam sudah larut, tapi Daffa dan Mas Yusuf belum kunjung pulang dari rumah Mas Rama. Jiwa penasaranku makin menjadi-jadi sekarang. Sebenarnya ada kejadian penting apa disana. Seheboh inikah hanya karena Fajarina?
1011.6K viewsOngoingAdded to Library 454 Times as abad 22
Read
+Library
Tak Ada yang Kedua

Tak Ada yang Kedua

Bibir tipisnya bergerak tanpa suara, “Kau kalah.” Aku memang kalah. Aku telah kalah dalam seluruh hidupku, itulah sebabnya sekarang aku tak ingin kalah lagi. Beberapa saat kemudian, layar ponselku menyala. Itu pesan dari Anto. [Hari ini pasti membuatmu merasa tertekan, Elsa. Maaf.] [Setelah semua ini berlalu, aku akan memberimu pesta pernikahan yang megah. Kita akan menikah lagi.]
27.5K viewsCompletedAdded to Library 990 Times as abad 22
Read
+Library
Awas, Ada Berondong!

Awas, Ada Berondong!

Vania menatap pemuda di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk antara ingin mencekik atau justru tertawa. "Pergi sana!" Vania sedang tak memiliki tenaga untuk menghadapi keusilan Tara. "Kalau ada apa-apa, telpon gue." Tara melemparkan sobekan kertas yang sudah ia tulis nomor ponselnya. "Tidak usah malu-malu, gue standby dia puluh empat jam." "Damkar kali." "Bye, Mbak cantik. Adek ganteng mau bobo dulu."
208 viewsOngoingAdded to Library 5 Times as abad 22
Read
+Library
ZahFad

ZahFad

Ada beberapa buku yang tersusun di atas meja, mungkin buku novel atah kumpulan cerpen atau pun majalah. "Aku ingin membaca semuanya." Zahra lalu mengambil satu buku. Isinya adalah tentang motivasi supaya menjalani hidup dengan lebih baik. Ingin membacanya sampai habis adalah keinginannya. Selain ibadah tentunya. "Ini jam berapa, ya?" Zahra melihat arah jam dinding dan terlihat jam 14.00 WIB. Ia pergi dari jam 22.00 WIB. Berarti, dirinya sudah berjalan lebuh dari 12 jam lamanya.
2.0K viewsOngoingAdded to Library 78 Times as abad 22
Read
+Library
2'20

2'20

Adri dengan segera menyembunyikan tubuhnya dan kembali bermeditasi, lalu membiarkan jiwanya keluar dari tubuh dan pergi ke bagian atas bangunan untuk melihat keadaan. Seluruh pasukan keraton sudah dikerahkan menuju alun-alun Kidul. Pusaran angin raksasa, langit yang ditutupi dengan awan gelap, hingga kedatangan Wrena benar-benar membuatnya tak bisa berkata-kata. Pemuda itu dengan cepat pergi ke kediaman orang tuanya, napasnya tersengal-sengal hebat selagi dia mencoba menemukan ruangan ayah dan ibunya. Melihat para Abdi yang tergeletak tak tertolong di sepanjang lorong, hingga pintu ruangan kedua orang tuanya yang dirusak dan terbuka lebar ... Adri memelankan laju gerak tubuhnya.
1012.6K viewsCompletedAdded to Library 441 Times as abad 22
Read
+Library
Cinta Abadi

Cinta Abadi

"Kamu yang sabar ya. Percaya semuanya akan berakhir dengan indah." Zahra menghela napas. "Indah dari mana?" "Iya. Setiap keadaan pasti akan berubah menjadi indah," jawab Vita seraya menatap iba Zahra. "Apa ini karma ya untuk aku?" tanya Zahra. Kali ini air mata telah menetes dari pelupuk matanya. Vita menaikkan salah satu alisnya. "Karma? Kenapa kamu kok bisa bilang gitu?"
103.7K viewsOngoingAdded to Library 91 Times as abad 22
Read
+Library
PREV
12345
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status