Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
SETELAH.
Aku menatap kata itu. Sederhana. Tanpa metafora puitis. Tanpa bunga-bunga bahasa yang berusaha menutupi kepahitan.
"Hanya 'Setelah'?" tanyaku.
"Iya," jawab Arjuna mutlak. "Karena semua yang kita lakukan hari ini—mengajar di kelas, mediasi di kantor, membesarkan Elang, menulis buku ini—semuanya terjadi di fase 'Setelah'. Setelah kita berhenti saling membohongi."