Balas Dendam Sang Pendamping Setia
“Aku berpikir, kalau malam ini aku mati, setidaknya aku pernah merasakan cinta yang nyata. Cinta yang tidak bersyarat, yang tidak bergantung pada apa yang bisa kuberikan atau capai, tapi murni pada siapa diriku.”
“Nayla…” suara Arvino nyaris berbisik.
“Dan aku sadar, itulah yang kuinginkan ke depan. Bukan hanya sukses dalam karier, bukan hanya dampak sosial, tapi juga koneksi tulus dengan seseorang yang benar-benar memahami perjalananku.”
Arvino menggenggam tangannya. “Maksudmu…”
“Maksudku, meskipun aku sudah berdamai dengan masa lalu, aku ingin menatap masa depan kita bersama. Aku ingin menjalani langkah-langkah selanjutnya denganmu.”
Hot Chapters