Bara Dendam Sagara
bisiknya pada diri sendiri, “momentum fisik dan momentum kesadaran mereka.”
Ia menunggu. Sabar. Seperti nelayan yang menunggu ikan masuk ke jaringnya. Angin mulai bertiup dari arah laut, membawa aroma garam dan menggoyangkan daun-daun bambu di sekelilingnya, menciptakan simfoni desau yang sempurna untuk menyamarkan gerakan. Inilah saatnya.
“Aku akan menghangatkan diri lebih dekat dengan api,” gumam Bima, berbalik memunggungi Danu dan berjalan beberapa langkah menuju api unggun. Punggungnya terbuka lebar. Kesempatan emas.
Capítulos Populares