Ada momen aneh yang selalu kusadari saat mau naik panggung di acara komunitas: perutku berputar seperti ada kupu-kupu kecil yang terbang—itulah yang orang sebut 'butterflies in my stomach'.
Dari pengalamanku, frasa itu memang biasanya berarti gugup, tapi bukan hanya itu. Kadang yang kurasakan lebih mirip campuran antara ketegangan dan antisipasi, semacam adrenalin yang bikin otot-otot perut bergetar. Secara biologis, itu reaksi 'fight-or-flight'—darah dialihkan dari perut ke otot, saraf merespons, dan otot-otot di sekitar perut menjadi tegang, sehingga terasa seperti kepak-kepak kecil. Pernah waktu presentasi tentang manga favoritku, aku hampir klepek-klepek bukan karena takut membuat salah, tapi karena sumringah sekaligus deg-degan.
Di sisi praktik, aku biasanya menenangkan diri dengan tarik napas perlahan dan memusatkan pikiran pada langkah kecil: satu kalimat, satu gerakan. Kadang teknik grounding juga ngebantu—pegang meja, rasakan teksturnya, hitung mundur dari lima. Untuk perasaan yang lebih ke arah senang (misalnya ketemu cosplayer idola atau nonton pengumuman game baru), kupikir istilah itu malah cocok dipakai sebagai hal positif. Jadi, ya, 'butterflies in my stomach' sering berarti gugup, tapi konteksnya penting—itu bisa gugup karena takut, atau gugup karena bahagia. Aku pribadi memilih memaknai kupu-kupu itu sebagai penanda bahwa sesuatu penting akan terjadi, dan itu membuatnya terasa hidup.