Istriku Seorang Juragan
gumamnya, suaranya berat dan dipenuhi rasa kantuk.
Aku berdecak kesal, menyingkap selimut tebal di tubuhnya. "Pagi apaan udah jam delapan lewat, ayo bangun. Mau sembuh tidak?"
Jingga terkejut sedikit mendengar kata-kataku. Matanya yang semula setengah terpejam kini terbuka sepenuhnya, meskipun masih ada ekspresi kebingungan dan kantuk di wajahnya. Ia menghela napas panjang, seolah berat untuk bangun, namun akhirnya ia duduk perlahan, "kenapa sih harus buru-buru banget kang. Jingga masih pusing, lemas juga" keluhnya, suaranya terdengar lirih, masih tersisa kantuk yang sangat jelas.
Hot Chapters