Miskin itu Memalukan
“Biar nanti aku bicara sama mas Rumy deh, mau diapakan rumahnya.”
“Yo wes, gitu aja. Kalau begitu, aku tak pulang dulu.” Lek Barno mengenakan lagi topinya dan pulang dengan naik sepeda motor.
Aku jadi berpikir bagaimana kalau rumah tersebut di huni mamaku saja, ya? Rumahnya juga lumayan besar, sudah tembok semua, tinggal masuk saja. Dekat sama pasar dan pinggir jalan desa. Mama bisa tinggal di sana bersama Siva. Secara kalau mama sama papa mertuaku kembali dari Sumatra, kan nggak perlu sungkan untuk menyuruh mama pergi.
Hot Chapters