Cinta Dalam Tiga Luka
Tapi mereka langsung diam saat Rania melirik ke arah mereka, bukan dengan marah, melainkan dengan senyum tipis yang entah kenapa membuat pipi mereka memerah.
"Baiklah," lanjut Rania sambil berdiri dan berjalan perlahan ke sisi kanan papan tulis, "kalau begitu, mari kita bicara tentang Chairil Anwar. Apa yang membuat puisinya begitu menggigit? Kenapa ia bisa terasa begitu dekat dengan kita, bahkan puluhan tahun setelah ia tiada?"
Salah satu mahasiswa cowok menjawab cepat, "Karena dia tidak sok suci, Bu. Puisinya jujur banget. Ganas, kalau perlu. Tapi tetap terasa manusiawi."
ตอนยอดนิยม