Suami Perkasa
Hatinya berdebar, seolah tubuhnya sendiri menggiringnya ke suatu tempat yang belum ia sadari.
Di ujung jalan, ia berhenti di depan sebuah kafe kecil dengan lampu kuning hangat. Dari luar, tempat itu tampak tenang, tak banyak orang. Farel menarik napas panjang lalu masuk. Aroma kopi dan kayu hangus menyambutnya, sedikit menenangkan hatinya yang bergemuruh.
Ia memilih meja di pojok, memesan kopi hitam tanpa pikir panjang. Ketika pelayan pergi, ia menyandarkan tubuhnya, memejamkan mata, mencoba melupakan semuanya meski hanya sebentar.