TEMAN WANITA AYAHKU
Bintu Hasankunci ternyata belum siap akutuhan tolong aku ku tak dapat menahan rasa di dadakumengapa belum siap aku kehilangan dirimukarena kamu aku rela menunggu
Nada suaranya tajam, matanya menyala, seperti singa betina yang anaknya baru diganggu.
Bunda hanya menghela napas. “Ra, cukup. Aku udah capek. Jangan maki-maki, ya.”
“Aku nggak bisa diam, Mbak. Kamu disakitin, diam. Dicurangi, diam. Ditikam dari belakang pun kamu masih sabar? Kalau aku yang ngalamin, percaya deh, rumahnya si pelakor itu udah aku samperin. Aku bakar bajunya satu-satu.”