Gampangnya, cerita fiksi itu adalah sebuah dunia yang sengaja dibuat untuk diceritakan — segala sesuatu di dalamnya lahir dari imajinasi penulis, bukan dari catatan sejarah atau laporan nyata.
Aku suka memikirkan fiksi sebagai permainan serius antara pembuat cerita dan pembaca: penulis menata tokoh, konflik, latar, dan aturan dunia itu sendiri, lalu pembaca masuk dan rela mengikuti. Di sana mungkin ada naga, teknologi futuristik, atau sekadar sebuah gang kecil di kota yang terasa sangat nyata, padahal semuanya adalah susunan kata dan keputusan artistik. Yang penting bukan selalu kebenaran faktual, melainkan konsistensi internal dan daya tarik emosional: kalau dunia fiksionalnya konsisten, aku akan percaya dan terhanyut.
Selain hiburan, fiksi sering jadi laboratorium moral dan pemikiran. Lewat cerita, penulis bisa bereksperimen dengan situasi ekstrem — misalnya bagaimana masyarakat bereaksi ketika waktu berhenti, atau apa yang terjadi kalau seorang remaja menemukan kekuatan supranatural — dan dari sana pembaca mendapat cermin tentang manusia, nilai, atau kritik sosial. Intinya, cerita fiksi itu tempat aman untuk menjelajah kemungkinan tanpa harus terikat fakta dunia nyata. Aku selalu terkesima bagaimana satu kalimat fiksi bisa mengubah cara pandangku tentang sesuatu yang nyata.