Malam Pertama dengan Janda Anak 2
Dhuha melepaskan pelukan mereka, sedikit menjauh agar bisa menatap wajah Aini dengan lebih jelas.
Aini mengangguk perlahan. "Semalaman aku memikirkan ini, Mas. Aku tidak banyak teman, baik lelaki dan perempuan. Jadi, tiba-tiba aku teringat seseorang di panti. Aku juga tidak menyangka akan secepat itu menemukan yang cocok, tapi sepertinya Tuhan yang membukakan jalan. Aku tahu ini bukan jalan ideal, tapi kalau memang harus ada orang lain yang mengandung anakmu... aku ingin itu seseorang yang bisa aku percaya. Bukan wanita pilihan mama. Kamu setuju kan, Mas?"
Dhuha mengusap wajahnya, mencoba mencerna perkataan Aini. "Siapa yang kamu maksud, Ai?"