Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Istri Perawan Disangka Janda

Istri Perawan Disangka Janda

Selamat menyambut Ramadhan serta berpuasa. Maaf maaf maaf. 🙏
10437.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14.9K kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
SUJUD TERAKHIR EMAK

SUJUD TERAKHIR EMAK

“Wah, nggak usah repot-repot, Nak. Emak cukup sama sayur bening aja…” “Mak, makan yang enak itu juga ibadah, lho. Lagian, Ramadan ini cuma sebulan. Buka puasanya harus disyukuri dengan makanan yang layak,” kata Sita, menyodorkan piring. Mak Asih ragu sejenak, tapi akhirnya menerima dengan tangan gemetar. “Makasih, Nak… Allah yang bales kebaikanmu…” Sita tersenyum. Pandangannya sempat melayang ke meja makan kecil di dalam rumah. Di sana, hanya ada mangkuk berisi sayur bening dan sepotong tahu goreng. Hatinya semakin pilu.
4.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 116 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

Ada harapan yang tumbuh semakin kuat. ⸻ Malam harinya, Dinda duduk di tempat tidur sambil memandangi jurnal kosong yang baru dibelinya. Di sampulnya tertulis, “Untukmu, yang Sedang Tumbuh di Dalam Rahimku.” Rayhan datang membawa segelas air hangat dan duduk di sampingnya. “Apa itu?” Dinda tersenyum. “Jurnal kehamilan. Aku mau nulis semua hal yang terjadi selama hamil. Biar nanti bisa dibaca anak kita waktu udah gede.”
88.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 207 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
Dosa Berdenyut Rindu – Ustadz Zidan VS Dokter Salma

Dosa Berdenyut Rindu – Ustadz Zidan VS Dokter Salma

Tapi tak satu pun dari mereka mengucap kata bernama rasa. Pagi hari ke-28 Ramadan. Aisha membuka mata. Salma langsung memanggil tim dokter. Zidan hampir menangis. “Alhamdulillah, Nak. Alhamdulillah.” Aisha tersenyum lemah. “Ustaz... Bu Dokter... tadi aku mimpi... ada taman besar, dan aku baca Al-Mulk di sana. Tapi belum selesai. Terus aku bangun.”
671 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
Kabur Saat Masa Iddah

Kabur Saat Masa Iddah

Dan selalu meminta ixin tiapkali akan lembur dan pulang telat. Pesan dari Jo yang menagih motornya kuabaikan, termasuk pesan Mama yang bertanya aku sekarang dimana. Aku hanya tidak tega mengabaikan pesan Tandi, adik bungsuku yang berusia lima tahun yang baru belajar mengirim pesan melalui ponsel. Aku tersenyum tiapkali dia mengirim pesan yang ditambahi dengan stiker lucu, meski kadang aku kesulitan membacanya dan tidak mengerti apa maksudnya.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 106 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
BUKAN MENANTU KAYA

BUKAN MENANTU KAYA

Semuanya kulakukan supaya terjaga dari segala penyakit hati. . Ramadhan tinggal sepuluh hari lagi. Aku ikut serta menyemarakkan lomba menulis di platform tempat tulisanku bernaung. Cerbung kali ini mengangkat kisah hijrah. Beberapa pembaca setia mulai mengapresiasi karya teranyarku. “Dek ...“ Suara Mas Hasan menghentikkan liukkan jemari di atas keyboard laptop. “Kamar kerja, Mas.“ Aku menjawabnya agak berteriak. Suara langkah Mas Hasan terdengar semakin dekat. Dia menghampiriku dengan wajah muram.
1017.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 509 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
PERGI UNTUK KEMBALI

PERGI UNTUK KEMBALI

Aku sendiri masih canggung mengganti sebutan diri. “Bukan itu.” Zein menggeleng. “Aku mau minta Om Radit tanda tangan di buku ini.” Buku dengan sampul bertuliskan ‘Jadwal Kegiatan Ramadhan’ itu kemudian berpindah dari tangan Zein ke pangkuanku. Zein membantu membukanya sampai pada halaman yang butuh ditandatangani. “Dikasih tanda dulu di setiap tugas, Om,” jelas Zein. “Aku sudah sholat subuh sampai isya hari ini.
107.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 279 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
Janji Setia

Janji Setia

Dan akhirnya selain sabar Dayyan tak punya pilihan lain lagi. Waktu pun terus berjalan pada bulan Ramadhan. Doa umat muslim pada bulan itu diijabah oleh Allah. Maka Dayyan pun tak bosan mendoakan agar istrinya sadar. Hari demi hari dilalui hingga dari satu minggu pertama telah jadi minggu kedua dan memasuki minggu ketiga. Ayah Bhani memang sholat wajibnya di masjid. Namun, untuk tarawih dan witir ia kerjakan di dalam kamar 103.
106.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 131 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
LOL

LOL

Ibu Liza pergi, saat ini mereka berdua sedang membongkar ransel Nira, sebuah buku kecil berwarna cream dengan pena senada yang menggantung di sampingnya. Mereka membuka perlahan, di sampul pertama tertulis “Dear Diary” dan otomatis ini adalah buku harian milik Nira. Mereka membukanya kembali, “ 21 Mei 2015”. Liza dan Afriya tersenyum bahagia, mereka membuka lembaran yang lain tertulis “23 Mei 2015” senyum merekah mereka sirna. Tidak ada yang tahu kenapa tapi yang pasti ini karena buku harian itu.
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 74 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
KEMERDEKAAN UNTUK GIANDRA

KEMERDEKAAN UNTUK GIANDRA

Halaman berikutnya Adzana mulai membaca nya. (Hai perkenalkan nama saya Giandra, hari ini hari minggu, 5 september 1999. Ini kali pertama dian nulis di buku diary yang di ajari bunda buat nulis diary. dian nulis disini ditemani sama bunda. Hari ini sepulang berdoa di gereja dian sama bunda jalan jalan di pasar beli bandana warna merah muda warna kesukaan dian. Makasih ya bunda, dian sayang banget sama bunda ) Adzana menutup buku diary semasa Giandra duduk di bangku sekolah dasar. Membuka buku diary Giandra yang lain. Buku diary kedua ketika Giandra duduk di bangku sekolah menengah pertama.
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69 kali sebagai diary ramadhan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status