ISTRIKU DISIKSA SAMPAI GILA
pinta Maisa.
Aku menelan saliva dan melirik ke arah Bik Santi. Cepat Bik santi menggelengkan kepalanya.
"Jangan Non, bahaya."
"Tapi kasihan Maisa, Bi."
"Ayo Ma, suruh mereka berhenti, Maisa pusing, Maisa takut," ucap Maisa lagi, kulihat wajahnya sudah berkeringat dan bergetar hebat.
"Ya ampun Non Maisa termor ini, dia biasa begini kalau ketakuatan, Non." Bibi mulai panik di sampingku.