Samaran Terakhir
Aku tak ingat kata-kata tepatnya, tapi aku ingat rasanya: seperti seseorang menoleh padaku, lalu segera mengalihkan pandangan.
Aku adalah karakter minor yang hanya diberi nama agar cerita tampak hidup.
Tapi aku mendengar suara.
Bukan suara narator. Bukan suara penulis. Tapi suara dari antarkata suara sunyi antara satu paragraf dan paragraf lainnya.
Suara itu bertanya,
"Jika kamu punya satu baris lagi, mau kau gunakan untuk apa?"
Aku tidak menjawab waktu itu.