Bicara soal film yang menampilkan suku kanibal wanita, reaksi publik memang sering lebih heboh daripada yang kelihatannya di layar.
Aku pernah membaca dan menonton banyak diskusi soal ini: sisi gore dan tabu tentu memancing kemarahan, tapi yang sering memicu protes paling keras adalah bagaimana representasi itu dieksekusi. Kalau hanya sensasionalisme dan eksploitasi—mengubah perempuan atau komunitas adat jadi monster tanpa konteks—orang mudah tersulut. Kelompok feminis, advokat hak adat, dan kritik film biasanya bereaksi kalau mereka merasa gambarnya misoginis, rasis, atau merendahkan korban sejarah tertentu.
Di era media sosial sekarang, protes bisa cepat melebar: petisi online, boikot layar, perdebatan di forum, atau tekanan ke festival dan distributor untuk menarik atau memberi label ketat. Tapi bukan berarti semua film semacam itu otomatis jadi sasaran protes; banyak juga yang lolos karena konteks artistik, kritik yang kuat, atau karena penonton mengerti niat ceritanya. Bagiku, penting menilai konteks dan apakah kreator paham tanggung jawab representasi—kalau tidak, wajar ditentang.