Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Mas Joko mau ngopi? Kopi hitam, Mas. Kopi tubruk asli, gulanya gula batu. Panas, kental, hitam. Bukan kopi sasetan encer kayak di kantor.”
Mendengar tawaran itu, mata Joko langsung berbinar. Setelah ketegangan di ruangan Clarissa yang penuh tipu daya dan godaan, tawaran kopi sederhana dari seorang mandor jujur di tengah debu proyek terasa seperti tawaran surga. Ini adalah jenis interaksi yang ia rindukan. Jujur, sederhana, dan tanpa udang di balik batu.
Tidak ada basa-basi, tidak ada keraguan.