Hajatan Tetangga
Kuhidangkan teh manis ketika dia duduk di bangku depan rumah.
"Ada apa, Pah?" tanyaku pelan.
"Mau nelpon Pak Abdul, belum bisa juga," kata suami.
"Menelepon ke luar negeri itu susah, Pah, apalagi Pak Abdul jarang hidupkan HP." kataku kemudian.
"Iya, Mah, tapi Pak Abdul harus tahu, Erwin dan kelompoknya makin menjadi," kata suami.
"Pah, aku takut, Terima saja yang sepuluh persen itu, Pah," usulku.