Rindu yang Lupa
Tak ada yang mampu mengajarinya berenang dari kenangan perih.
"Apa di matamu kehidupan menyakitkan? Apa kau menyesal menjadi seorang wanita?"
"Akan lebih menyakitkan jika aku hidup menjadi lelaki."
"Kenapa?"
"Aku akan jarang menangis."
"Eh, " Aldi heran, namun jawaban tersebut cukup membuat Aldi terkekeh. Ia menikmati malam, seperti kepulan asap yang terburai di udara. Malam begitu pekat, kendaraan lalu lalang tak seramai ketika esok. Beberapa pengunjung restoran silih berganti pergi. Melodi di panggung telah ditunaikan. Waitres sibuk membersihkan botol-botol minuman keras, menyesap jika masih ada sisa. Piring-piring berserta pasangannya sendok, gelas, mangkuk-mangkuk, nampan-nampan, ditumpu
Hot Chapters