SERPIHAN DENDAM MASA LALU
Sementara itu ditempat yang berbeda, jauh dari kota, tepatnya disebuah desa terpencil, pemuda dengan tubuh tinggi tengah duduk memperhatikan luasnya padang rumput didepannya.
“Tuan … sudah waktunya makan siang, ayo kubantu masuk.”
Pemuda itu berbalik, dengan wajah tirusnya dia tersenyum, dari sorot matanya dia tahu bahwa wanita yang memapahnya ini memendam rasa untuknya, pemuda itu hanya tersenyum miring karena Tuhan selalu menghadirkan wanita-wanita cantik yang bodoh padanya. Ah, tidak, ada satu wanita yang belum bisa di taklukkannya, tetapi dia yakin, saat bertemu nanti dia akan mendapatkannya.
Hot Chapters