Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!
"
Li Lian bersujud dengan kesungguhan yang mampu menggetarkan pilar-pilar kuil. Di tengah kesunyian itu, ia merasakan sebuah getaran aneh merambat dari lantai menuju jantungnya. Seolah-olah langit yang sedang murka itu mulai mendengarkan rintihan seorang wanita yang sedang bernegosiasi dengan takdir.
Beberapa jam berlalu hingga fajar mulai mengintip dengan warna yang tak lagi semerah tadi malam. Li Lian mengangkat kepalanya, matanya merah dan sembap, namun ada seberkas cahaya keyakinan di sana. Ia yakin, doanya telah menembus awan merah dan menyentuh singgasana langit.
Ia berdiri dengan kaki yang kaku, menatap ke arah Paviliun Naga Langit dari kejauhan.