Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Naik, Nak Joko!”
Joko melompat masuk ke kursi penumpang. Interior mobil itu sama kacaunya dengan kantor Pak Bima. Ada gulungan kertas, botol-botol air mineral kosong, dan beberapa sepatu bot berlumpur di lantai belakang. Pak Bima menyalakan mesin, dan raungan diesel yang keras langsung terdengar. Mobil itu melesat keluar dari parkiran, membelah lalu lintas pagi Jakarta dengan agresif.
Selama beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka, diisi oleh suara bising jalanan dan musik dangdut dari radio mobil yang disetel pelan. Joko hanya diam, menunggu.