여기 kata kata kehilangan와 관련된 100개의 소설이 있습니다. 일반적으로 kata kata kehilangan와 같은 이야기는 Rumah Tangga, Romansa 및 Lainnya 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Suami Hilang, Dapat Jodoh Dadakan 부터 시작해보세요!
"Iya, bundanya kakak hilang. Tapi hilang untuk selamanya, kakak tidak bisa kembali menemukan bunda, jangankan menemukan bertemu lagi pun tidak akan pernah.''
Nazril semakin dibuat penasaran, saat Kayla bercerita namun Kayla malah kembali menjeda perkataannya. Ia ingin membuat Nazril mengerti jika bukan hanya dirinya yang kehilangan. Masih banyak orang yang memiliki nasib seperti dirinya.
"Mau tahu enggak kenapa bisa seperti itu?" Tanya Kayla.
"Apa?"
Manusia sering menganggap remeh sesuatu yang telah dimilikinya. Mereka berpikir bahwa hal itu tidak akan bisa lenyap dari genggaman tangan. Namun bukan begitu cara semesta bekerja. Maka dari itu kita mengenal kata sakral yang sangat menyakitkan yang bernama kehilangan.
Kata tak terucap namun gerak terbaca.
Kehilangan bukanlah hal yang mudah di dunia ini. Saat kita terlahir, kita menginginkan segalanya dalam genggaman kita. Saat kita pergi, banyak hal yang akan ditinggalkan. Bibi masih tidak bersuara. Dalam pelukan, kami merasakan tangis yang teramat dalam. Pamannya Joy telah tiada. Sang pemilik kehidupan telah memutuskannya untuk kembali.
Kata-kata itu menampar lebih keras dari apa pun.
“Shafa.”
Wanita itu menatapnya dingin. “Kamu pikir aku gak tahu, Mas? Aku tahu kenapa kamu bisa sampai segininya. Karena kamu kehilangan dia, Zeta. Waktu kehilangan aku, kamu juga gak bisa makan, tapi hanya sebentar. Tapi saat Zeta yang hilang dari pandangan kamu, jangankan makan, hidup pun kamu enggan sepertinya."
Segala bayangan indah yang dimiliki seolah hilang seketika setelah itu.
“Mas, aku kehilangan hal yang berharga dalam diriku sedangkan Mas nggak kehilangan apa pun dan Mas mengatakan kita impas?”
“Aku kehilangan istriku!” Yoga membentak Ratri dengan mata melotot. “Aku kehilangan keluarga kecilku, aku kehilangan karirku, aku kehilangan semuanya!” Suara Yoga naik menjadi beberapa oktaf. Kepalan tangannya bahkan sudah menguat karena emosi yang meledak itu butuh pelampiasan.
Ada jejak penyesalan di matanya.
Aku bertanya dengan nada dingin, "Anak? Anak dari mana? Kamu sudah menggugurkan anak itu."
"A ... apa?" ulang Ravel dengan ekspresi ketakutan. Dia kembali bertanya, "Apa anak itu meninggal? Nggak ... aku nggak menggunakan banyak tenaga kok."
Dan bagaimana pengorbanan dan keberanian akan membentuk perjalanan mereka selanjutnya?
*Kepedihan dan Kesedihan atas Kehilangan yang Tak Terhindarkan*
Dalam bab ini, detektif muda harus menghadapi kepahitan kehilangan yang tak terhindarkan. Mereka merasakan pedihnya duka yang melanda ketika seseorang yang mereka cintai atau hormati meninggalkan dunia, entah karena kecelakaan tragis atau karena usia tua. Kematian itu sendiri adalah pengingat yang menyentuh akan kerentanan dan keberadaan yang sementara dalam kehidupan manusia. Detektif muda merenung tentang kenangan bersama orang yang telah tiada, mengenang momen-momen kebersamaan yang indah, serta pelajaran berharga yang telah mereka berikan.
Tati juga mengajak Bu Ines duduk di tempat yang lebih adem.
“Kenapa bisa seperti ini? Kenapa mereka bisa setega ini?” Bu Ines menangis. Dia merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya. Dulu, dia kehilangan cinta dan raga suaminya. Kini, anak satu-satunya pun dijauhkan dari dirinya. Dosa besar apa yang telah dilakukan olehnya hingga dia mendapatkan cobaan seberat ini? Ataukah ini karma dari hasil perbuatannya dulu yang telah mengecewakan Bulan dan keluarganya?
Nggak ada yang tahu gimana seorang pria yang seumur hidupnya bermain catur bisa menyingkirkan penjaga keamanan sebesar gelandang.
Saat Kelly berlari mengejar Julian dengan menyeret gaun pengantinnya sambil menangis, mobil itu telah melaju kencang dan bannya menderu di atas kerikil.
Mobil itu melaju ke arahku, menuju pemakamanku sesuai undangan.
Akhirnya dia datang padaku atas kemauannya sendiri.
Tepat saat jiwaku mulai memudar.
Bagaimana kalau suatu hari aku harus menjelaskan semuanya dengan jujur?
Aku tidak takut pada hukuman.
Aku takut pada kekecewaan di mata mereka.
Itu yang paling menyakitkan.
Karena kehilangan uang bisa dicari lagi.
Kehilangan waktu bisa diperbaiki.
Tapi kehilangan kepercayaan…
itu berat.
Dan di situlah luka itu terasa.
Bukan di angka.
Bukan di tekanan.
Tapi di kemungkinan kehilangan pandangan yang tulus dari orang yang kita sayang.