Air Mata di Antara Bunga
“Dia ngambek. Nggak mau bukakan pintu perias.”
Sarah menarik napas, seolah pasrah.
“Vanya sejak kecil selalu dimanjakan ayahnya. Manja, nggak tahu diri. Kamu sudah bekerja keras, tapi dia sama sekali nggak mengerti cara meringankan bebanmu.”
Wajahnya menampakkan ekspresi penuh pengertian, seolah begitu tulus.
“Jangan pikirkan aku. Pulanglah, bujuk dia. Lagi pula, nggak mungkin seorang pengantin nggak berhias di hari pernikahannya, ‘kan?”