Hidup di Dekapan Musuh Suamiku
Bara melirikku sekilas, senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
“Duduk di sana, Mia.” Dia menunjuk ranjangnya.
Aku menurut dan duduk di tepi ranjang dengan gerakan canggung, tanganku menyentuh permukaan spreinya yang lembut dan bersih.
Bara berbalik membawa beberapa obat, krim pereda bengkak dan kain bersih lalu berlutut di depanku.
“Mana yang sakit?”
“Pinggang kiri, kayaknya,” ucapku pelan sedikit menghindari tatapan Bara yang menatap langsung ke mataku.