Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Memory

Memory

Ada geleyar nyeri menyusup perlahan di aliran darah. "Ada Pak Aksara juga," lanjut Lenni. Aku menarik nafas panjang, meredam rasaku yang entah apa. Kecewa? Sedih? Patah hati? "Tolong, antar lemon tea ini." Lenni menaruh nampan berisi tiga gelas es lemon tea. "Kamu saja, Len," tolakku. Lenni membulatkan matanya. "Sudah sana kamu saja."
108.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 266 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Fake

Fake

tambah Kevin heboh, salah satu tukang kompor di geng mereka. “Mau taruhan? Kalau dia main sama gue malam ini, kalian bayar satu juta perorang. Kalau gue kalah, malam ini gue yang traktir gimana?” usul Ali tiba-tiba, mereka tampak antusias setuju dengan gagasan itu. Tidak akan rugi mengeluarkan uang jika mereka mendapatkan sebuah hiburan, Dido dan Adit merasa gelisah feeling mereka sudah tidak enak dan Shena belum kembali ke meja mereka, satu-satunya orang yang berani memberhentikan permainan gila ini ya cuma seorang Raden Akashena Kavi.
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 75 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Greedy

Greedy

"Nggak lucu." "Tapi, bagiku lucu. Mukamu seperti bayi tikus. Merah banget." Naina merasa sangat kesal dengan Rey. Apa katanya tadi? Bayi tikus? Bisa-bisanya dirinya disamakan dengan bayi tikus! "Kalau aku bayi tikus, kamu bayi apa? Bayi kodok?!" "Ih ... Masih mending bayi kodok daripada bayi tikus." "Masih mending bayi tikus!"
105.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 151 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Sweet Revenge

Sweet Revenge

Dia sudah mendapat kejutan luar biasa saat membuka pintu dan menemukan seorang Andreas berdiri memasang senyum ramah dengan sebuah jaket hoodie berwarna navy. "Bagaimana kau bisa masuk? Apartemenku harus punya kunci lift sendiri untuk naik ke lantai atas," desak Misha dengan pandangan menyelidik. Andreas meneguk segelas soda dingin dengan senyum tipis yang membuat Misha makin kesal. "Aku memang tak punya kunci lift, tapi aku punya uang," jawab pria itu dengan senyum penuh arti. "Tentu saja," gumam Misha agak sinis.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Muda dan Liar

Muda dan Liar

seru Nicky yang langsung mencubit pipiku. “Aw … sakit,” rengekku memegangi pipi yang barusan ia cubit. Dia yang mencubit malah tersenyum tanpa menghiraukan sakitku. Ah … ada-ada saja. “Aku tidak mengerti, kenapa kau suka sekali melamun? Apa kau memiliki banyak pikiran? Atau kau sedang memikirkanku?” goda Nicky yang membuatku mencubit balik pipinya.
4.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Me

Me

pinta Lea, Lea mengangjat bongkahan batu yang menjepit boneka tersebut, dia dibantu Nana. Fuuuh “ Pisau!” jerit Nana kembali. Persis tepat disamping boneka yang tertindih itu, ada sebuah pisau yang terlihat masih tajam matanya. Dan darah yang menempel telah menjadi karat yang membekas. Tubuh boneka itu juga dicabik dengan cabikan pisau membentuk sebuah kata. Boneka itu berukuran sekitar lima puluh sentimeter. “ LLEVAÑA”
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Rasa

Rasa

Arah matanya menatap jendela yang basah terguyur air hujan diluar. "Gak perlu minta maaf. Salah Kyra yang terlalu terbuka sama orang. Ternyata, separah itu ya cari perhatian ke orang lain. Kyra tau sekarang, kalo Kyra punya luka masa kecil. Dan bodohnya Kyra, Kyra mencoba cari obatnya di orang lain. Makasih banyak, Ay, udah negur Kyra kalau ternyata menjadi super ekspresif dan aktif itu, gak selamanya baik. Bisa mengganggu banyak orang."
104.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
LILY

LILY

tanya Rachel. Lily berfikir keras sudah seharusnya Rachel mengetahui tentang masalah ini karena Rachel adalah sabatnya. Umur Lily saat itu masih 10 tahun. Ibu Lily memarahinya hanya karena Lily tidak sengaja menumpahkan minuman di lantai. Linda ibunya Lily sangat membenci gadis itu, kesalahan apapun yang dilakukan Lily membuat Linda geram dan marah. Sekalipun hanya masalah kecil, Linda tidak segan untuk memarahi Lily bahkan memukulnya. Kebencian Linda terjadi bukan karena tanpa alasan. Dua hari yang lalu ayah Lily meninggal karena ditabrak mobil saat menyelamatkan Lily. Lily yang masih kecil menjatuhkan boneka kesayangannya di tengah jalan dan kebetulan dari arah depan ada mobil yang melaju
105.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 200 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Slave

Slave

desisnya menggodaku dengan nada mengejeknya. "Cih, in your dream!" aku meludahinya bertepatan dengan dirinya yang memejamkan mata. Dia seakan tahu dengan tindakanku ini. Hasan tidak marah, ia malah terkikik geli seraya mengelap bagian wajahnya yang terkena air liurku dengan sebelah telapak tangannya. Spontan bola mataku melotot melihat apa yang ia lakukan selanjutnya, di jilatinya telapak tangan yang berlumuran air liurku dengan sangat bernafsu.
10.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 309 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Lusia

Lusia

Aroma masam yang sangat Lusia kenal, aroma anggur. Entah kenapa, dari sekian banyak aroma, laki – laki segarang Aaron justru memilih aroma anggur yang kuat, untuk parfumnya. Aroma masam yang segar, tanpa sadar Lusia menghirup habis aroma parfum Aaron. Sebuah candu yang baru. Lusia baru kali ini menyadari aroma tubuh Aaron yang menyatu dengan parfumnya.
106.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 168 kali sebagai lick
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status