Ifat
sahutku.
“Tapi..,” suara Idah tertahan sesuatu.
“Tapi? Tapi kenapa?”
“Kakak jangan marah ya.”
“Kenapa Kakak harus marah, Idah?”
“Bonekanya.., tangan kanannya sakit.., jahitannya robek, hampir putus,”
Aku menundukkan kepala, bersamaan dengan menggerakkan tangan kiri memegang bahu dan tangan kananku yang masih tergendong kain. Miris hatiku mendengar keterangan Idah yang terakhir itu.
Hot Chapters