Frekuensi Terlarang
Juan memacu mesin itu menembus jalur tikus di antara tebing karang, menjauh dari aroma garam menuju pedalaman yang berdebu.
Lilia duduk di kursi penumpang, tubuhnya dibungkus selimut wol tebal yang masih berbau asap ledakan. Matanya yang cokelat kini seringkali memancarkan kilatan hijau samar, bukan lagi karena serangan Echo-01, melainkan karena energinya sendiri yang telah menyatu dengan sumsum tulangnya. Ia menatap telapak tangannya. Setiap kali ia bergerak, udara di sekitarnya seolah-olah bergetar, meninggalkan jejak statis yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau merasakannya, Juan?" bisik Lilia. Suaranya terdengar lebih jernih, seolah-olah setiap kata membawa resonansi yang bisa menggetark
Sikat na Kabanata