SELIR HATI
“Haha... iba? Kau pikir aku tidak tahu beda antara iba dan perhatian? Kalau iba, dia tidak akan menulis dengan kata ‘rasa tenang’. Kalau iba, dia tidak akan menatap gadis itu seperti seseorang yang membuatnya damai.”
Mira terdiam. Dias menutup matanya, menghembuskan napas. “Lucu ya, istana ini dipenuhi orang-orang yang menunduk padaku. Tapi satu orang saja yang membuat matanya berbinar pada wanita lain, rasanya semua kuasa ini tidak berarti.”
Sementara itu, di kamar yang lebih kecil di sisi barat istana, Gita duduk di tepi ranjang, menatap surat yang kini sudah mulai kusam di ujungnya.
Hot Chapters