Setiap kali melodi 'Sekali Ini Saja' masuk, aku langsung merasa ada yang bergetar di bagian paling rawan hatiku. Lagu ini bagi pendengar itu semacam permintaan sederhana tapi berat: tolong berikan aku satu kesempatan lagi, bukan untuk memaksa, melainkan untuk menepikan penyesalan dan mencoba memperbaiki yang pernah salah. Liriknya pendek-pendek, tapi tiap kata terasa dipilih untuk mengungkapkan kepiluan yang tak perlu kata-kata panjang. Aku ingat pertama kali menyanyikannya dalam mobil sambil menahan air mata—bukan karena dramatis, tapi karena rasanya ada lubang lama yang tiba-tiba mendapat salep.
Dari sisi emosional, lagu ini bekerja sebagai cermin: membuat pendengar menilai sendiri apakah mereka yang meminta kesempatan atau yang harus memberi maaf. Dalam banyak kasus, efeknya bukan cuma membuat kita ingin kembali ke hubungan lama, tapi juga memberi keberanian untuk berkata jujur pada diri sendiri tentang batas yang boleh dilanggar. Glenn membawakan dengan penuh kelembutan, sehingga pesan itu terasa bukan tuntutan, melainkan permohonan manusiawi.
Intinya, 'Sekali Ini Saja' bagi banyak orang adalah campuran harap, penyesalan, dan penerimaan. Dia bukan sekadar lagu galau—dia seperti surat kecil yang dibacakan di tengah malam, bikin kita mikir ulang keputusan dan kadang, membuat kita memilih untuk memaafkan atau melangkah pergi dengan damai.