Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
Di sana tidak ada gudang es yang membeku, tidak ada pengkhianatan yang munafik, tidak ada kepedihan yang merobek jiwa, hanya ada sinar matahari yang hangat dan wajah-wajah yang dirindukan.
Aku pun menoleh sekali lagi pada nisan yang dingin itu, pada jasad Dharma yang sudah kaku. Dalam hati aku berbisik pelan, 'Dharma, di kehidupan ini utang antara kita sudah lunas. Kamu menebus kesalahanmu dengan penyesalan seumur hidup. Namun aku tidak membutuhkan penyesalanmu, dan tidak membutuhkan permintaan maafmu. Kalau ada kehidupan berikutnya, semoga kita tidak pernah saling berjumpa. Aku hanya ingin menjadi perempuan biasa yang punya orang tua tersayang, punya pasangan yang mencintai, punya seorang a
Hot Chapters