Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Lara dan Jingga

Lara dan Jingga

Dia melihat direct message, masih ada histori pesannya dengan Arga, saat itu juga dia segera menghapusnya, dia tidak peduli lagi dengan Arga meski masih terasa sakit mengingatnya. Suatu iklan membuat dia tertarik, lomba menulis cerita dengan tema ‘Kekasih Berengsekku’ membuat dia tertarik, apalagi hadiah dollarnya yang memikat. Ralin belum pernah menulis sebelumnya, namun saat membaca rules lomba itu seketika sesuatu ide mengalir dalam pikirannya. Dia kembali membuka laptob yang sempat dia aktifkan mode sleep. Dia mencoba mengetikkan alur sebuah cerita di sana. Entah kenapa semuanya menjadi lancar, satu hal yang membuat Ralin merasa nyaman menulis, dia seolah mencurahkan setiap kekesalannya
3.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
THE SIBLING'S

THE SIBLING'S

Karena ingin mengambil aman, Erchan berlari menghindari mereka, sebelum dirinya di keroyok masal. ***** Acara masih berlangsung, saat ini yang sedang di adakan adalah lomba makan kerupuk, tarik tambang, basket, futsal, dan cerdas cermat tentunya. Acara ini di jadikan ajang untuk mencari nilai, seperti cerdas cermat. Mereka akan mendapatkan nilai tambah dari guru pengampu maya pelajaran nya. Ada juga yang di jadikan tugas, seperti kelas fotografer. Mereka di minta untuk memfoto apa pun, dan hasil yang terbaik akan di simpan untuk kenangan-kenangan. Tentunya mereka juga di beri nilai. TBC.
9.94.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 145 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Cowok Metropolitan Masuk Kampung

Cowok Metropolitan Masuk Kampung

Lomba yang tidak terlalu berat karena mayoritas diikuti oleh murid yang hari Rabu nanti akan absen POR Kelas. Hari kedua adalah lomba lari estafet, pencak silat dan tenis meja. Ezra sibuk mengamati jalannya acara dari atas lantai dua. Para murid lomba terpilih sudah bubar dari rapat yang diadakan oleh kepala sekolah. Ezra menunggu kedatangan Wulan, ternyata gadis itu sedang sibuk menulis sesuatu di buku tulisnya. "Lan?" Ezra memanggil Wulan pelan karena di dalam kelas masih ada beberapa orang yang sedang berkumpul.
102.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
NIKAH DENGAN DUDA TIGA KALI MALAM PERTAMA BIKIN KAGET

NIKAH DENGAN DUDA TIGA KALI MALAM PERTAMA BIKIN KAGET

kataku panjang lebar yang membuat Papa dan Mama langsung bertatapan. Untung, saja, aku pintar memgarang. Nilai bahasa Indonesiaku 10 tiap disuruh bikin cerpen. Dan memberitahu, aku pernah juara dua lomba buat cerpen antar sekolah. Aku hobi mengarang. Jadi aku bisa bicara begini dengan begitu lancar dan terkesan alami seolah gak bohong sama sekali.
9.952.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Mempelai Wanita yang Tertukar

Mempelai Wanita yang Tertukar

Sungguh pemandangan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Dewan juri lalu mengetuk mikrofon dengan perlahan. Membuat jantung siapa saja berhenti berdetak. Meskipun hanya lomba seremonial tiap tahun, namun terasa berbeda di setiap tahunnya. Awalnya hanya lomba menulis cerita pendek, tapi tahun ini diganti menjadi lomba membuat berita. Sama-sama masuk dalam lomba kepenulisan. Pras mendekatkan mikrofon di depan mulutnya. Dinaikkannya sedikit letak kaca matanya. Ia bersiap untuk memberikan pertanyaan kepada peserta lomba.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 70 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Kepolosanku Direnggut

Kepolosanku Direnggut

“Akhirnya Nisa memberi Pr bahasa indonesia, dan seni budaya.” “Bentar ya kakak ambilin cerita kakak, dulu aku milih cerpen dek. Padahal cerita aku ga begitu bagus, tapi aku disuruh ikut lomba. Kan lumayan tuh juara 1 dapet 1juta dek, sebenarnya uangnya mau aku beliin HP tapi gajadi, karena keuangan sekolah dan ekonomi budemu lagi melonjak dan pas-pas an.”
103.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 105 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Senandung Masa SMA

Senandung Masa SMA

Entah ikhlas atau tidak, agar acara buru-buru cepat selesai. “Nah, yang terakhir, salah satu karateka kita, Matari Lasmaya Windu Batari, atau yang biasa kalian kenal Matari dari kelas 1-3 berhasil menyabet JUARA 1 di lomba sastra untuk kategori cerpen!!!! Hebat yaaa! Yuk, Matari, maju yuk!” kata Bu Cita.
12.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 402 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas

Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas

Beberapa poin penting yang diutarakan adalah enam cabang yang diperlombakan, mulai dari tari, lukis, kaligrafi, catur, puisi, dan musik. Selain itu beliau juga mengenalkan juri untuk setiap cabang. Hanya tiga juri yang dikenal Ming Lan. Juri menari adalah nona Lan Yun, juri kaligrafi dipegang oleh Zhou Qingwen, dan juri puisi guru kekaisaran Chen. Tiga juri lain merupakan pejabat dan bangsawan senior yang memang ahli di bidang masing-masing. "Tanpa menunggu lebih lama, silakan ikuti lomba sesuai keahlian kalian. Setiap pemenang akan mendapat hadiah istimewa."
1021.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 480 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Luka Tak Terlihat

Luka Tak Terlihat

“Oh, jadi kamu yang jadi pembelanya, Sa? Aku cuma mau ngasih tahu aja, kalau lomba ini bukan buat orang seperti Aris. Jangan sampai nanti dia malu sendiri saat kalah.” Aris menguatkan diri untuk menjawab. “Kamu nggak perlu khawatir, Karina. Aku ikut lomba ini bukan untuk bersaing denganmu atau siapa pun. Aku ikut karena aku ingin berbagi cerita melalui tulisanku. Kalau kamu merasa lebih baik, buktikan saja dengan hasil karyamu, bukan dengan meremehkan orang lain.” Karina terdiam sesaat, lalu mendengus kesal sebelum pergi meninggalkan Aris dan Sasa.
101.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Istri Cerdik melawan Pelakor Licik

Istri Cerdik melawan Pelakor Licik

“Kenapa sih, ibu jahat banget sama Hau!” “Hau ada salah apa sama ibu?” Masih dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya, gadis kecil berponi dora itu terus berlari tak tentu arah, sehingga karena kurangnya keseimbangan ia harus tergelincir oleh batu kelikir yang saat itu juga langsung mengambrukkan tubuhnya di atas paving yang kasar.
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 178 kali sebagai lomba cerpen
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status