DIPTA
Meja-meja tersusun rapi, kursi kayu dengan sandaran lurus, dan aroma kopi yang lebih kuat daripada wangi manis sirup seperti di tempat lain, tidak romantis, tidak intim dan fungsional.
Di sudut kanan dekat jendela, ada satu meja persegi dengan dua kursi saling berhadapan. Di meja itu, Rania sudah duduk di sana sejak lima belas menit lalu. Tangannya terlipat di atas meja, punggung tegak, tas diletakkan di kursi sebelahnya seperti biasa ruang yang selalu Dipta tempati. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap pintu terus-menerus seperti orang menunggu janji personal. Tatapannya fokus ke luar kaca, mengikuti lampu lalu lintas yang berubah warna dengan ritme stabil. Ia datang bukan sebagai
인기 회차