Kehilangan seseorang yang begitu dekat, terutama pasangan hidup, adalah salah satu ujian terberat dalam hidup. Aku pernah mendengar cerita dari seorang teman yang juga kehilangan istrinya, dan dia bilang, rasanya seperti separuh jiwa ikut pergi. Yang membantu dia bertahan adalah membiarkan dirinya merasakan semua emosi itu—sedih, marah, bahkan kadang merasa bersalah. Dia tidak mencoba buru-buru 'move on' karena menurutnya, cinta itu tidak bisa dihapus begitu saja. Alih-alih, dia belajar hidup bersama rasa sakit itu, perlahan-lahan menemukan cara untuk menghormati kenangan istrinya tanpa tenggelam dalam kesedihan.
Salah satu hal konkret yang dia lakukan adalah membuat semacam 'ritual' kecil untuk mengingat istrinya. Misalnya, setiap minggu dia mengunjungi tempat mereka sering berkencan atau memasak makanan favorit istrinya. Awalnya terasa menyakitkan, tapi lama-lama aktivitas itu justru memberinya kenyamanan. Dia juga mulai menulis surat untuk istrinya di buku harian, seolah-olah mereka masih bisa berkomunikasi. Aku pikir ini cara yang indah untuk menjaga ikatan itu tetap hidup, tanpa menyangkal realitas bahwa dia sudah tiada.
Komunitas juga menjadi penyelamatnya. Dia menemukan grup dukungan untuk janda/duda, dan ternyata banyak orang yang mengalami hal serupa. Mereka saling berbagi cerita, terkadang sambil tertawa mengenang hal-hal konyol yang dulu dilakukan pasangan mereka. Perspektifnya berubah ketika menyadari bahwa kesedihannya bukanlah sesuatu yang aneh atau sendirian. Beberapa anggota grup bahkan menjadi teman dekatnya sampai sekarang, karena mereka mengerti tanpa perlu banyak penjelasan.
Dia juga perlahan mulai menemukan hal-hal baru yang memberinya makna—volunteer di rumah sakit tempat istrinya dirawat, mengadakan acara amal untuk penyakit yang diidap istrinya, atau sekadar mencoba hobi yang sebelumnya tidak sempat dieksplor. Aku ingat dia bilang, 'Bukan tentang melupakannya, tapi tentang belajar membawa cinta itu ke dalam hidupku yang sekarang.' Sekarang, setelah lima tahun berlalu, dia masih sesekali menangis ketika mendengar lagu tertentu atau mencium parfum yang mirip dengan istrinya. Tapi dia juga bisa tersenyum saat bercerita tentang betapa cerewetnya sang istri dulu. Rasa sakit itu tidak pernah benar-benar hilang, tapi dia sudah belajar berjalan berdampingan dengannya.