ANAK TUKANG CUCI PIRING
Tangisku tumpah, rasa sedih, benci, kecewa, semuanya bergumul menjadi satu.
“Kenapa, Nek? Kenapa Nenek begitu tega?” ucapku mengalir begitu saja.
“Apa salah Imas, Nek? Apa? Apa karena Imas hanya anak tukang cuci piring? Apa karena orang tua Imas paling tak berpunya, sehingga Nenek begitu tega melakukan hal keji itu pada Imas? Apa karena Bapak tak terlahir dari rahim Nenek, sehingga menjadikanmu membeda-bedakan Imas dengan cucu-cucu Nenek yang lain? Kenapa, Nek? Kenapa …,” tandasku sambil tersedu, bahkan bisa kudengar orang-orang di belakang terisak.