Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Avelynnesedikit keluh malam ininada dering teleponkering sudah air matakuhanya satu pintaku
Senyum yang pahit namun membebaskan.
Krek.
Aku merobek cek itu menjadi dua bagian.
Suara kertas yang sobek terdengar sangat memuaskan di telingaku.
Krek. Krek.
Aku merobeknya lagi. Dan lagi. Sampai cek bernilai satu miliar itu berubah menjadi potongan-potongan kertas kecil tak berharga.
Aku menaburkan potongan kertas itu di atas meja makan yang mengkilap, membiarkannya berserakan seperti konfeti di pesta perpisahan yang menyedihkan.