PELUKAN BERDARAH
Tawanya bukan lagi tawa seorang istri atau menantu—melainkan tawa seseorang yang sedang menikmati penderitaan orang lain.
Arya tertegun, matanya membesar. Tubuhnya gemetar, seolah menolak percaya pada apa yang ia lihat dan dengar.
“Tak… tak mungkin. Kan, sayang?” suaranya bergetar, memohon jawaban yang bisa menenangkan. “Kamu bercanda, kan?"
“Aku tidak sedang bercanda, Arya,” ucap Nayla datar, menekankan setiap suku kata. Tatapannya menusuk, dingin, dan penuh tekanan. “Aku akan mengakui satu hal padamu…”
Bab Populer