Antara Ambisi dan Cinta
“Enggak bandel, Ma. Itu tugas aku, kan.”
Mama Ayara menggeleng, lalu mengusap rambut menantunya. “Nak, kamu sekarang bukan lagi sendiri. Kamu bawa dua nyawa di dalam tubuhmu. Mereka kecil, mereka rapuh, dan mereka butuh kamu bahagia. Ingat, bumil yang sehat bukan cuma karena vitamin atau makanan, tapi juga dari hati dan pikiran yang tenang.”
Cantika menelan ludah, air matanya tiba-tiba menggenang. “Aku takut, Ma. Takut enggak sanggup, takut mengecewakan Ezra, takut enggak bisa jadi ibu yang baik.”