JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
"Baru masuk, temannya langsung kesurupan, loncat-loncat mirip pocong, sambil lari keliling rumah. Mau gantung diri di kamarmu, untung di tahan rame-rame."
Sesampai di tangga rumah, Bang Oar langsung memintaku menunjukkan gulungan asing tadi. Perasaan was-was seketika muncul saat kami melihat Bang Oar memegangnya dengan berani.
"Paku."
Pelita di tengah teras menayangkan sebuah kain putih dalam genggaman Bang Oar. Aku ikut tertuju pada sebuah paku besi berukuran lebih panjang dari telapak tangan. Eyang bahkan ikut memegang paku itu karena seumur hidup kami belum pernah menemukan paku sebesar pencungkil bata.