Terjerat Hasrat Ayah Mertua
Suara pecahan kaca tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, terdengar seperti dentang lonceng kematian yang mencekam.
“Aw!”
Karena tak bisa fokus dan tangannya sedikit gemetar, tanpa sengaja jarinya tergores pecahan kaca yang runcing hingga berdarah.
Ujung kaca itu menyayat cukup dalam di bagian telunjuknya.
Laura segera menarik tangannya, lantas termangu untuk sesaat.
Dia menatap tetesan darah merah pekat yang mulai jatuh ke lantai marmer, bercampur dengan tumpahan susu putih yang kontras.