Aku Menahan Bom dengan Perut Hamil, Dia Pun Menggila
Namun, pada akhirnya, semua kenangan itu berhenti pada detik ketika dia mengulurkan tangannya kepadaku.
Aku membalas menggenggam tangannya, jari-jari kami saling bertaut erat.
Cincin itu memantulkan kilau memikat di bawah cahaya lampu, seperti darah, sekaligus seperti api.
"Aku bersedia."
Aku mendengar suaraku sendiri menjawab dengan mantap.
"Baik di neraka maupun di surga, aku akan menemanimu."
Sorak sorai dari bawah panggung begitu riuh.